FJTT Ke-30, Kemenpar Ungkap Tantangan Baru Trenggalek Bukan Sekadar Gelar Festival Jaranan

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idKementerian Pariwisata RI memasukkan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 ke agenda Karisma Event Nusantara. Status tersebut membuka peluang promosi pariwisata Trenggalek ke pasar yang lebih luas.

Namun, masuknya FJTT ke KEN juga menghadirkan tantangan baru. Panitia kini perlu menunjukkan dampak ekonomi yang muncul dari penyelenggaraan festival.

Asisten Deputi Strategi Event Kemenpar RI, Raden Wisnu Sindhutrisno, mengapresiasi konsistensi FJTT selama 30 tahun. Menurutnya, perjalanan panjang tersebut menjadi modal untuk mengembangkan wisata budaya.

“FJTT konsisten menjaga pertunjukan jaranan tetap hidup,” ujar Raden Wisnu Sindhutrisno. “Festival ini juga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.”

Pemicu Kunjungan Wisatawan di Musim Sepi (Low Season)

Pemerintah melihat waktu pelaksanaan FJTT memiliki nilai strategis. Panitia menggelar festival pada September yang masuk periode low season.

Momentum tersebut membuka peluang bagi wisatawan untuk berkunjung di luar musim liburan. Wisatawan juga dapat datang khusus untuk menikmati rangkaian festival budaya.

“Pelaksanaan festival di bulan September memiliki nilai strategis,” kata Raden Wisnu. “Acara ini memicu kunjungan wisatawan saat low season.”

Peluang tersebut tetap membutuhkan strategi promosi yang kuat. Pengelola perlu menjangkau calon wisatawan sebelum festival berlangsung.

Jaranan Jadi Pintu Masuk Wisata Budaya Internasional

Kemenpar melihat kekhasan jaranan Trenggalek sebagai modal promosi wisata. Pemerintah menilai keunikan tersebut dapat membantu mengenalkan daerah ke pasar internasional.

Kemenpar juga berencana menghubungkan FJTT dengan sejumlah event di kabupaten tetangga. Ponorogo dan Pacitan masuk dalam rencana integrasi tersebut.

“Keunikan jaranan Trenggalek menjadi modal promosi internasional,” papar Raden Wisnu. “Kemenpar siap menghubungkan festival ini dengan Ponorogo dan Pacitan.”

Keterhubungan antar-event dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan. Langkah tersebut juga membuka peluang peningkatan belanja wisatawan di daerah.

Menggerakkan Ekosistem UMKM dan Ekonomi Lokal

Pelaku UMKM menjadi bagian penting dalam ekosistem FJTT. Kedatangan wisatawan membuka peluang transaksi bagi pelaku usaha lokal.

Karena itu, penyelenggara tidak hanya perlu melihat jumlah penonton. Dampak festival terhadap aktivitas ekonomi warga juga menjadi perhatian.

“Ukuran keberhasilan tidak hanya dari ramainya penonton,” tegas Raden Wisnu. “Dampak terhadap ekonomi lokal menjadi bagian paling penting.”

Pernyataan tersebut menunjukkan tantangan baru bagi penyelenggara FJTT. Festival perlu menghubungkan aktivitas pertunjukan dengan pergerakan ekonomi masyarakat.

Kemenpar Dorong Promosi Internasional

Kemenpar juga siap memperkuat promosi FJTT melalui jaringan pariwisata. Pemerintah akan menggunakan agen perjalanan dan operator tur untuk memperluas pemasaran.

FJTT juga berpeluang tampil dalam pameran pariwisata internasional. Promosi tersebut dapat memperkenalkan festival kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara.

“Promosi FJTT akan kami perkuat melalui agen perjalanan,” jelas Raden Wisnu. “Kami juga mengenalkan festival lewat pameran pariwisata internasional.”

Masuk KEN menjadi babak baru bagi FJTT. Setelah memperoleh ruang promosi lebih luas, pengelola perlu menunjukkan dampak festival terhadap pariwisata dan ekonomi lokal.(CIA)

Views: 6