TRENGGALEK, bioztv.id — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah menghentikan sementara distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah ratusan penerima manfaat mengeluhkan gangguan kesehatan.
Pengelola SPPG mengirim sampel makanan ke Surabaya untuk menjalani pengujian laboratorium secara komprehensif. Pengelola mengambil langkah tersebut setelah Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Trenggalek tidak sanggup memproses sampel.
Kepala SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah, Alfian Surya Riayantana, mengonfirmasi bahwa timnya mengirim sampel makanan pada Rabu (12/8/2026).
“Guna menindaklanjuti dugaan keracunan ini, pihak SPPG menggelar uji laboratorium makanan pada Kamis (12/8/2026). Karena Labkesda tidak bisa memprosesnya, kami akhirnya mengirim sampel tersebut ke Surabaya,” kata Alfian.
Tim laboratorium kini memegang peran penting untuk membuktikan apakah makanan MBG memicu gejala sakit para siswa atau faktor lain yang menyebabkannya.
Korban 421 Siswa Hingga Guru SMPN 1 dan 20 Siswa SDI
SPPG mencatat sementara keluhan kesehatan muncul di dua lembaga pendidikan.
Sebanyak 421 penerima manfaat di SMPN 1 Trenggalek melaporkan gangguan kesehatan. Sementara itu, 20 penerima manfaat di SD Islam Lukman Hakim juga mengeluhkan kondisi serupa.
“Pendataan kami mencatat keluhan muncul di dua sekolah, yaitu SMPN 1 Trenggalek sebanyak 421 siswa dan SDI Lukman Hakim sebanyak 20 penerima manfaat,” terangnya.
Padahal, dapur SPPG Tamanan memasok makanan bukan hanya ke dua sekolah tersebut. Fasilitas itu rutin memproduksi dan mendistribusikan MBG ke 11 sekolah serta satu posyandu. Total penerima manfaat mencapai 2.089 orang.
“SPPG Tamanan sebenarnya melayani 11 sekolah dan satu Posyandu dengan total penerima manfaat mencapai 2.089 orang,” jelas Alfian.
Peta sebaran tersebut membuat uji laboratorium semakin penting. Sejauh ini, gejala kesehatan hanya muncul di dua sekolah dari belasan titik distribusi yang menerima pasokan makanan dari dapur yang sama.
Menu Ayam Bumbu Sate Jadi Sorotan
Pada Rabu (11/8/2026), SPPG Tamanan membagikan paket MBG berisi nasi putih, ayam bumbu sate, tahu fantasi, sayur bayam jagung, dan buah semangka kuning.
“Menu katering kemarin terdiri dari nasi putih, ayam bumbu sate, tahu fantasi, bayam jagung, dan buah semangka kuning,” urainya.
Meski demikian, tim medis dan laboratorium belum menyimpulkan komponen makanan yang memicu gangguan kesehatan. Dugaan makanan sebagai penyebab utama masih membutuhkan pembuktian ilmiah dari hasil pemeriksaan di Surabaya.
Lintas Instansi Turun Periksa Dapur SPPG
Koordinator Wilayah SPPG Trenggalek, Sheilla Ammanda Yanu Fadilla, menegaskan bahwa penanganan insiden melibatkan berbagai instansi.
Dinas Kesehatan, Polres Trenggalek, Kodim, serta instansi terkait turun langsung menelusuri fakta di lapangan.
“Kami bergerak bersama lintas stakeholder, mulai dari Dinas Kesehatan, Polres, Kodim, hingga pihak terkait lainnya,” kata Sheilla.
Tim gabungan mendatangi penerima manfaat yang mengalami keluhan. Petugas mencatat gejala yang mereka rasakan serta makanan yang mereka santap.
Tim juga memeriksa kondisi higienitas dapur SPPG Tamanan. Pemeriksaan mencakup penerimaan bahan baku hingga proses memasak.
“Tim memeriksa dapur kami secara menyeluruh, dari alur penerimaan bahan baku hingga proses produksi makanan,” ujarnya.
Dinas Kesehatan mengambil sampel makanan dari penerima manfaat dan dapur SPPG untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
“Dinkes sudah mengambil sampel makanan dari penerima manfaat dan dari dapur SPPG untuk pengecekan laboratorium,” tambah Sheilla.
SPPG Tamanan Setop Layanan
Manajemen SPPG Tamanan menghentikan operasional katering sementara waktu hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
“Kami menghentikan sementara operasional katering sambil menunggu hasil lab keluar, agar kita tahu pasti apakah gangguan ini berasal dari makanan atau faktor lain,” tegas Sheilla.
Pengurus SPPG juga mengirimkan surat pemberitahuan penghentian sementara operasional dapur kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kami sudah melaporkan penghentian sementara operasional SPPG ini kepada Badan Gizi Nasional,” tuturnya.
Hingga Kamis (12/8/2026), tim laboratorium belum menyatakan bahwa menu MBG menjadi penyebab utama gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Penyidik dan tenaga medis masih mengumpulkan bukti serta memeriksa kondisi para penerima manfaat.
Bersama Satgas MBG Trenggalek, SPPG Tamanan juga mengevaluasi kembali seluruh rantai produksi katering.
“Kami bersama Satgas Trenggalek terus mengevaluasi seluruh proses agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi SPPG lain, sehingga tidak ada lagi insiden serupa di masa depan,” pungkas Sheilla.(CIA)
Views: 6
















