Bayi Tampan yang Ditemukan Terlantar di Tugu Dipastikan Sehat, RSUD Trenggalek Observasi 3 Hari

oleh
oleh
Bayi laki-laki yang ditemukan terlantar di Desa Banaran, Kecamatan Tugu, Trenggalek, dipastikan sehat
Bayi laki-laki yang ditemukan terlantar di Desa Banaran, Kecamatan Tugu, Trenggalek, dipastikan sehat

TRENGGALEK, bioztv.id – Penemuan bayi laki-laki di teras rumah kosong Desa Banaran, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, membawa kabar melegakan. Setelah memeriksa kondisi bayi secara menyeluruh, tim medis RSUD dr. Soedomo Trenggalek memastikan bayi tersebut dalam kondisi sehat dan stabil.

Meski kondisi fisiknya baik, tim medis belum langsung menyerahkan bayi itu kepada instansi sosial. Rumah sakit memilih melakukan observasi intensif selama tiga hari untuk mengantisipasi risiko infeksi maupun gangguan kesehatan lain, mengingat bayi tersebut diduga lahir tanpa bantuan tenaga medis.

“Saat tiba di RSUD, kondisi fisik bayi memang masih kotor. Namun setelah kami melakukan pemeriksaan medis awal, kondisi kesehatannya secara umum sangat baik dan stabil,” ujar Humas RSUD dr. Soedomo Trenggalek, Sujiono.

Tim Medis Rawat Bayi di RSUD

Tim medis membawa bayi itu ke RSUD dr. Soedomo sekitar pukul 09.20 WIB setelah merujuknya dari Puskesmas Tugu. Petugas Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Trenggalek turut mendampingi proses rujukan tersebut.

Tim medis mencatat berat badan bayi mencapai 3 kilogram dengan panjang tubuh 48 sentimeter. Saat ini, bayi menjalani perawatan di Ruang Matahari, ruang perawatan perinatal milik RSUD dr. Soedomo.

“Untuk saat ini, bayi masih menjalani observasi ketat di ruang perinatal. Alhamdulillah kondisinya sangat sehat,” tutur Sujiono.

Meski kondisi umum bayi tampak sehat, tim dokter tetap meningkatkan kewaspadaan. Mereka memantau kemungkinan munculnya infeksi karena tali pusar bayi masih menempel saat warga menemukannya.

Sujiono menjelaskan bahwa observasi selama tiga hari menjadi prosedur penting untuk memastikan bayi benar-benar terbebas dari dampak persalinan yang diduga berlangsung dalam kondisi kurang higienis.

“Kami memerlukan waktu setidaknya tiga hari untuk observasi lanjutan. Kami memperhitungkan risiko persalinan yang berlangsung dalam kondisi kurang higienis, sehingga kami wajib memastikan kondisi bayi benar-benar bebas infeksi,” paparnya.

Jika hasil observasi menunjukkan kondisi bayi tetap stabil dan bebas infeksi, RSUD dr. Soedomo akan menyerahkan penanganan lanjutan kepada Dinsos PPPA Kabupaten Trenggalek.

“Begitu masa observasi selesai dan dokter menyatakan kondisi bayi benar-benar aman, kami langsung berkoordinasi dengan Dinsos PPPA. Biasanya Dinsos akan membawa bayi ke panti asuhan rujukan di Surabaya untuk penanganan jangka panjang,” pungkasnya.

Petani Temukan Bayi di Teras Rumah Kosong

Peristiwa itu bermula ketika seorang petani perempuan bernama Yatini berjalan menuju sawah sekitar pukul 04.50 WIB, Minggu (26/7/2026).

Di tengah perjalanan, Yatini melihat bungkusan kain jarik merah tergeletak di teras rumah kosong milik warga yang sedang merantau. Karena penasaran, ia mendekati bungkusan tersebut dan membuka penutupnya.

Yatini terkejut saat melihat seorang bayi laki-laki yang masih hidup dengan tali pusar yang masih menempel. Ia kemudian memanggil warga sekitar, melaporkan temuannya kepada perangkat desa, dan meminta bantuan petugas kesehatan.

Petugas medis segera mengevakuasi bayi itu ke Puskesmas Tugu sebelum merujuknya ke RSUD dr. Soedomo Trenggalek untuk menjalani perawatan lebih lanjut.

Sementara itu, penyidik Polsek Tugu terus memburu pelaku pembuangan bayi tersebut. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, mengumpulkan barang bukti, dan mengembangkan penyelidikan untuk mengungkap identitas pelaku.(CIA)

Views: 2