TRENGGALEK, bioztv.id – Perumda Air Minum Tirta Wening Kabupaten Trenggalek mencatat pendapatan yang hampir memenuhi target pada penutupan semester pertama 2026. Di balik capaian tersebut, BUMD ini masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari terbatasnya kapasitas produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Tirta Pure hingga tingginya beban biaya listrik operasional.
Memasuki 100 hari masa kerjanya, Direktur Perumda Tirta Wening, Khoirul Ansori, memilih memfokuskan pembenahan internal untuk meningkatkan kinerja keuangan sekaligus kualitas pelayanan kepada pelanggan.
“Realisasi pendapatan kami sudah menembus angka 96,39 persen dari target semester pertama. Kami sangat optimistis bisa mengunci target penuh hingga akhir tahun,” tegas Khoirul Ansori.
Manajemen menargetkan pendapatan Perumda Tirta Wening sebesar Rp12,5 miliar pada tahun anggaran 2026. Target tersebut terdiri atas Rp12 miliar dari layanan air bersih dan Rp500 juta dari unit usaha AMDK Tirta Pure.
Hingga akhir Juni 2026, layanan air bersih menghasilkan pendapatan Rp6,45 miliar. Sementara itu, unit usaha Tirta Pure membukukan omzet Rp234,38 juta atau sekitar 78 persen dari target semester pertama. Selain mengejar target bisnis, PDAM juga harus menyetor dividen sebesar Rp200 juta ke kas Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Trenggalek.
Pasar Melimpah, Produksi Kewalahan
Permintaan pasar terhadap AMDK Tirta Pure terus meningkat. Namun, kapasitas mesin produksi yang terbatas membuat PDAM belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan agen maupun konsumen.
Untuk mengejar permintaan tersebut, tim teknis akan memodifikasi mesin produksi agar kapasitasnya meningkat hingga dua kali lipat dalam waktu dekat.
“Selama ini mesin kami butuh waktu tiga menit hanya untuk menghasilkan satu karton air minum. Kami menargetkan modifikasi baru nanti bisa memproduksi minimal dua karton dalam durasi yang sama,” beber Khoirul.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, PDAM juga akan mengganti kemasan luar Tirta Pure dari dus karton menjadi pembungkus plastik (wrapping). Langkah ini diharapkan mempercepat distribusi sekaligus meningkatkan daya saing produk di pasaran.
“Potensi pasar Tirta Pure ini sebenarnya sangat besar. Masalah utamanya murni ada di lini produksi kami yang belum mampu mengimbangi permintaan,” jelasnya.
Pensiunkan Empat Pompa
Selain mengejar pendapatan, manajemen PDAM juga berupaya menekan biaya operasional, terutama pengeluaran listrik yang selama ini cukup besar.
Manajemen memperketat pengawasan kebocoran jaringan pipa sekaligus menata ulang sistem distribusi air agar lebih efisien. Berkat langkah tersebut, perusahaan berhasil menghentikan operasional empat unit pompa sumur dalam (deep well) dan sumur bor tanpa mengurangi pasokan air kepada pelanggan.
“Kami telah menghentikan operasional empat pompa guna menekan beban tagihan listrik yang selama ini membengkak,” ungkap Khoirul.
PDAM juga mulai mengkaji pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi alternatif. Kajian tersebut menindaklanjuti arahan Bupati Trenggalek agar perusahaan mampu menekan biaya operasional dalam jangka panjang.
Perluas Jaringan Pipa
Pada sektor pelayanan, PDAM terus memperkuat jaringan distribusi agar tekanan air tetap stabil dan pelanggan dapat menikmati pasokan air selama 24 jam.
Khoirul memastikan tim teknis telah menyelesaikan berbagai gangguan distribusi yang sempat memicu keluhan masyarakat.
“Alhamdulillah, kendala jaringan yang sempat mengganggu pasokan warga sudah kami atasi, dan aliran air kini kembali normal 24 jam penuh,” ucapnya.
Dalam waktu dekat, PDAM akan mempercepat proyek peremajaan jaringan pipa. Perusahaan akan mengganti pipa berdiameter 1 dim menjadi 3 dim di Kecamatan Gandusari dan Kampak. Selain itu, tim juga akan memasang pipa berdiameter 8 dim sepanjang 600 meter di kawasan Gunung Jaas.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas cakupan layanan pelanggan baru sekaligus menjaga pasokan air bersih yang berkualitas bagi masyarakat Trenggalek.(CIA)
Views: 10
















