Meski Harga Obat di RSUD Trenggalek Masih Stabil, Tapi Alat Medis Plastik Mulai Naik

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idDi tengah kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kenaikan harga obat akibat pelemahan rupiah, RSUD dr Soedomo Trenggalek membawa kabar baik. Manajemen rumah sakit memastikan stok dan harga obat generik tetap stabil. Namun, mereka mulai menghadapi tantangan baru dari kenaikan harga Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) berbahan plastik.

Para distributor menaikkan harga sejumlah perlengkapan medis penting, seperti selang infus, alat injeksi, masker pernapasan, hingga perangkat nebulizer. Kenaikan harga tersebut berkisar antara 2 hingga 10 persen.

Kondisi itu langsung menarik perhatian manajemen rumah sakit karena hampir seluruh layanan medis sehari-hari bergantung pada ketersediaan perlengkapan steril tersebut.

Direktur RSUD dr Soedomo Trenggalek, Saeroni, mengatakan kenaikan harga belum menyentuh obat generik yang banyak digunakan masyarakat. Namun, rumah sakit mulai merasakan dampak kenaikan harga saat melakukan pengadaan perlengkapan medis.

“Kami pastikan harga obat generik sampai saat ini masih stabil. Sebaliknya, vendor menaikkan harga bahan habis pakai berbasis plastik seperti alat injeksi, selang infus, masker untuk gangguan saluran pernapasan, dan alat nebulizer,” ujar Saeroni, Senin (15/6/2026).

Saeroni menilai tingginya ketergantungan industri kesehatan nasional terhadap bahan baku impor menjadi salah satu pemicu kenaikan harga tersebut. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga ikut mendorong kenaikan biaya pengadaan berbagai komponen medis.

Alat Medis Plastik Jadi Beban Baru Operasional Rumah Sakit

BMHP berbahan plastik memegang peran penting dalam hampir seluruh tindakan medis. Tenaga kesehatan menggunakan perlengkapan tersebut mulai dari pemasangan infus hingga penanganan pasien dengan gangguan pernapasan.

Karena itu, jika tren kenaikan harga terus berlanjut, manajemen rumah sakit harus menyiapkan anggaran operasional yang lebih besar.

“Hampir semua tindakan medis membutuhkan bahan habis pakai berbahan plastik. Contohnya alat infus dan berbagai perlengkapan untuk menangani pasien dengan gangguan saluran pernapasan,” jelas Saeroni.

Ia menambahkan, distributor menerapkan kenaikan harga yang bervariasi. Beberapa produk hanya naik 2 hingga 5 persen, sementara produk lainnya sudah mencapai 10 persen.

“Kenaikannya bervariasi. Ada yang naik sekitar 2 persen, ada yang 5 persen, bahkan beberapa item mendekati 10 persen,” imbuhnya.

Pasien Tetap Mendapat Pelayanan Normal

Meski biaya pengadaan perlengkapan medis meningkat, RSUD dr Soedomo tetap menjaga kualitas pelayanan. Rumah sakit masih memiliki stok alat kesehatan dan obat-obatan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasien.

Selain itu, tenaga medis masih mengandalkan obat generik yang harganya tetap stabil untuk menangani sebagian besar pasien.

Saeroni menjelaskan, mayoritas pasien rawat jalan di RSUD dr Soedomo merupakan penderita penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi. Beruntung, produsen belum menaikkan harga obat generik untuk kedua penyakit tersebut.

“Pelayanan kesehatan tetap berjalan normal tanpa kendala. Sebagian besar pasien kami menderita diabetes dan hipertensi, dan sampai sekarang pabrik belum menaikkan harga obat generik untuk penyakit tersebut,” katanya.

RSUD Tetap Patuhi Standar Kementerian Kesehatan

Dalam setiap pengadaan obat dan alat kesehatan, manajemen RSUD dr Soedomo tetap berpedoman pada formularium rumah sakit dan formularium nasional yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Melalui kebijakan tersebut, rumah sakit berupaya menjaga efisiensi anggaran sekaligus memastikan pasien tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal.

“Kami menjalankan seluruh operasional sesuai formularium rumah sakit dan formularium nasional dari Kementerian Kesehatan,” tegas Saeroni.(CIA)

Views: 4