TRENGGALEK, bioztv.id – Ketua baru Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Trenggalek langsung melontarkan kritik tajam terhadap sejumlah proyek dan kebijakan di daerahnya.
Ketua PC PMII Trenggalek masa khidmat 2026-2027, Beni Kusuma Wardani, mengaku telah mengantongi sejumlah isu strategis yang akan menjadi fokus kritik dan kajian mendalam organisasi mahasiswa tersebut dalam waktu dekat.
Dua isu yang langsung mendapat perhatian PMII ialah pembangunan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di kawasan hutan serta dampak lingkungan proyek Bendungan Bagong yang hingga kini masih berjalan.
Dugaan Pelanggaran Izin KDKMP di Kawasan Hutan
Beni menilai proyek pembangunan KDKMP di kawasan hutan menyimpan sejumlah kejanggalan. Ia menduga pengelola proyek menjalankan pembangunan fisik sebelum mengantongi izin resmi penggunaan kawasan hutan dari otoritas terkait.
Karena itu, ia mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menegakkan regulasi yang telah negara tetapkan sendiri.
“Pihak pengelola membangun KDKMP di kawasan hutan sebelum mengantongi izin penggunaan kawasan hutan. Ini sangat aneh. Negara sudah mematok aturan, tetapi mengapa justru ada pihak yang berani melanggar aturan tersebut?” tegas Beni, Minggu (24/5/2026).
Menurut Beni, lemahnya kemauan politik (political will) dalam mengawal regulasi berpotensi memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat. Karena itu, PMII berkomitmen mengawal isu tersebut melalui kajian akademis dan pengumpulan data lapangan.
Proyek Bendungan Bagong Picu Erosi Sawah Warga
Selain menyoroti KDKMP, PMII Trenggalek juga membidik dampak lingkungan dari megaproyek Bendungan Bagong.
Beni mengungkapkan, kader PMII menemukan indikasi kerusakan lahan pertanian warga saat menjalankan riset lapangan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Salah satu temuan paling mencolok ialah hilangnya area persawahan akibat erosi di sepanjang aliran Sungai Temon.
“Kami menemukan fakta bahwa sawah warga hilang akibat tergerus erosi Sungai Temon. Dugaan kuat kami, fenomena ini berkaitan erat dengan proyek besar yang sedang berjalan di wilayah hulu,” ungkapnya.
Beni menganalisis aktivitas pembukaan lahan secara besar-besaran di kawasan proyek bendungan telah mengurangi fungsi daerah resapan air. Akibatnya, debit sungai melonjak drastis setiap kali hujan turun. Arus sungai yang semakin deras kemudian menghantam bantaran dan mengikis lahan pertanian warga.
“Kawasan hutan kehilangan fungsi resapan airnya, sehingga air hujan langsung mengalir ke sungai. Arus sungai yang mengganas ini kemudian menggerus sawah warga secara perlahan,” jelas Beni.
PMII Siapkan Riset Kolaboratif
Meski telah menemukan sejumlah indikasi kuat, PMII Trenggalek memilih tidak gegabah menyimpulkan penyebab pasti kerusakan lingkungan tersebut. Organisasi mahasiswa itu justru menyiapkan riset kolaboratif bersama sejumlah pakar dan elemen terkait agar hasil kajian lebih ilmiah dan faktual.
“Kami akan menggelar riset kolaboratif terlebih dahulu supaya hasilnya lebih transparan, objektif, dan memiliki dasar argumen yang kuat,” tegas Beni.
Ia menambahkan, erosi di sekitar bantaran sungai saat ini telah menggerus sekitar 12 ru lahan sawah warga. Kerusakan tersebut berlangsung bertahap, mulai dari bibir sungai hingga merembet ke bagian tengah lahan pertanian.
Melalui kajian itu, PMII mendesak pemerintah segera mengevaluasi dampak proyek strategis nasional (PSN) Bendungan Bagong agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas dan mengancam mata pencaharian warga.(CIA)
Views: 2
















