TRENGGALEK, bioztv.id – Pasar kerja di Kabupaten Trenggalek menunjukkan anomali. Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tampak menurun, Badan Pusat Statistik (BPS) menilai kondisi tersebut belum mencerminkan perbaikan nyata. Sebaliknya, BPS melihatnya sebagai indikasi kerapuhan struktural pasar kerja yang perlu diwaspadai.
Ketua Tim Statistik Sosial BPS Trenggalek, Samsul Ma’arif, menjelaskan bahwa jumlah penduduk usia kerja terus meningkat hingga mencapai 606.110 orang pada Agustus 2025. Namun, partisipasi masyarakat dalam pasar kerja justru menurun.
“Angkatan kerja Trenggalek berkurang signifikan sebanyak 12.146 orang sehingga tersisa 470.751 orang. Penurunan ini secara langsung menekan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 2,41 persen poin menjadi 77,67 persen,” ujar Samsul.
Penurunan TPAK inilah yang kemudian menahan laju angka pengangguran secara statistik.
Jumlah Pekerja Menyusut
Dari total angkatan kerja, BPS mencatat hanya 452.598 orang yang bekerja. Jumlah ini menyusut 11.481 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, 18.153 warga Trenggalek masih berada dalam status pengangguran.
BPS juga mencatat bahwa pasar kerja lokal masih didominasi sektor informal. Sebanyak 25,60 persen penduduk bekerja sebagai pelaku usaha sendiri, disusul buruh/karyawan sebesar 23,02 persen, serta usaha yang dibantu pekerja tidak tetap sebesar 20,58 persen.
Di tengah dominasi sektor informal, pekerja formal menunjukkan tren pertumbuhan. “Jumlah pekerja formal mencapai 123.507 orang atau 27,29 persen dari total pekerja. Kenaikan ini terjadi karena semakin banyak perusahaan dan pelaku usaha yang merekrut tenaga kerja tetap,” jelas Samsul.
Lulusan SMK Paling Rentan Menganggur
BPS menilai kualitas sumber daya manusia (SDM) masih menjadi tantangan utama pasar kerja Trenggalek. Struktur ketenagakerjaan masih didominasi lulusan berpendidikan rendah.
BPS mencatat lulusan SD atau sederajat ke bawah mendominasi 39,46 persen atau 178.609 pekerja. Lulusan SMP menyusul dengan 27,90 persen, kemudian SMA kejuruan 12,70 persen, SMA umum 11,58 persen, dan lulusan pendidikan tinggi (Diploma ke atas) hanya 8,35 persen.
Secara agregat, TPT Trenggalek memang turun tipis 0,04 persen poin menjadi 3,86 persen. Namun, BPS menemukan persoalan serius pada kelompok pendidikan tertentu.
Lulusan SMA kejuruan (SMK) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka tertinggi sebesar 8,93 persen. Angka ini jauh melampaui lulusan SMA umum yang berada di angka 4,58 persen, maupun lulusan diploma ke atas sebesar 4,25 persen.
Samsul menegaskan bahwa tingginya pengangguran lulusan SMK menunjukkan ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan riil pasar kerja. Ia mendorong pemerintah daerah untuk mengevaluasi kurikulum dan arah pendidikan kejuruan agar lebih selaras dengan permintaan industri dan dunia usaha.(CIA)
Views: 5
















