Makanan Bau Hingga Dikembalikan, Hasil Lab Menu SPPG Pogalan 2 Negatif Zat Berbahaya

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idDinas Kesehatan PPKB Trenggalek memastikan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat memicu keluhan di SMKN 1 Pogalan tidak mengandung zat berbahaya. Meski hasil uji laboratorium menunjukkan hasil negatif, petugas tetap menarik makanan tersebut untuk menghindari risiko keracunan.

Langkah ini langsung menyedot perhatian publik. Meski makanan lolos uji zat kimia, perubahan aroma yang muncul membuat petugas menghentikan konsumsi secara total.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan PPKB Trenggalek, Andiek Muarifin, menegaskan tim medis telah memeriksa sampel makanan tersebut secara menyeluruh.

“Hasil uji laboratorium menunjukkan bahan berbahaya seperti metanil yellow, boraks, dan formaldehida semuanya negatif. Kami juga tidak menemukan bakteri E. coli dalam uji cepat,” jelas Andiek, Senin (27/4/2026).

Bau Muncul Setelah Distribusi

SPPG Pogalan 2 di bawah pengelolaan Yayasan Kemala Bhayangkari menyediakan menu chicken bowl scramble tersebut. Pengelola mengklaim telah menjalankan seluruh tahapan standar, mulai dari pemeriksaan bahan baku hingga uji keamanan pangan sebelum mendistribusikannya ke sekolah.

Petugas menerima bahan makanan pada Selasa sore, memasaknya keesokan hari, lalu mengirimkannya ke sekolah sekitar pukul 07.30 WIB. Namun, beberapa jam setelah siswa menerima makanan, masalah mulai muncul.

“Sekitar pukul 10.00 WIB, pihak sekolah menemukan perubahan aroma pada makanan. Secara fisik tidak terlihat tanda pembusukan, tapi baunya memang berubah,” ujar Andiek.

Menanggapi temuan itu, pihak sekolah langsung melaporkan kejadian ke satgas dan segera menarik seluruh menu dari lokasi sebagai langkah pencegahan.

Faktor Penyimpanan dan Suhu

Meski makanan bebas dari racun kimia, Dinkes masih menelusuri penyebab perubahan aroma tersebut. Dugaan awal mengarah pada kesalahan teknis dalam proses penyimpanan.

“Kemungkinan besar suhu ruang atau durasi penyimpanan yang tidak tepat memengaruhi kondisi makanan,” kata Andiek.

Ia menjelaskan bahwa perubahan lingkungan yang ekstrem dapat memicu reaksi kimia pada makanan, meskipun bahan awalnya dalam kondisi baik saat dimasak.

Standar Sensorik: “Jika Berbau, Jangan Dimakan!”

Dinkes menegaskan bahwa standar keamanan pangan tidak hanya bergantung pada hasil laboratorium, tetapi juga kualitas fisik dan sensorik seperti bau dan rasa.

“Jika makanan mengalami perubahan bau, warna, atau tekstur, masyarakat sebaiknya tidak mengonsumsinya. Kami memilih mencegah daripada mengambil risiko kesehatan bagi siswa,” tegas Andiek.

Evaluasi Ketat untuk Pengelola Dapur MBG

Kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh pengelola dapur MBG di Trenggalek untuk memperketat standar distribusi. Dinkes mendesak pengelola SPPG agar lebih disiplin menerapkan prosedur keamanan pangan dari hulu hingga hilir.

“Kami sudah memberikan edukasi agar pengelola lebih memperhatikan suhu penyimpanan dan higienitas lingkungan selama proses distribusi,” tambahnya.

Kasus ini menjadi catatan penting bagi keberlanjutan program MBG di Trenggalek. Keamanan pangan kini tidak hanya soal bebas zat berbahaya, tetapi juga memastikan kualitas makanan tetap segar hingga diterima masyarakat.(CIA)

Views: 12