TRENGGALEK, bioztv.id – Pemerintah Kabupaten Trenggalek tidak hanya mengejar target pembangunan fisik Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Kini, pemerintah mulai memfokuskan perhatian pada aspek yang jauh lebih krusial: penguatan kelembagaan koperasi.
Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskomidag) menegaskan bahwa keberhasilan KDKMP tidak hanya bergantung pada kemegahan gerai atau fasilitas, tetapi pada tata kelola organisasi yang sehat dan profesional.
Kepala Diskomidag Trenggalek, Saniran, menjelaskan bahwa pihaknya mengembangkan KDKMP melalui dua jalur utama secara paralel: sarana prasarana (sarpras) dan kelembagaan.
“Ada dua sisi yang kami perhatikan pada KDKMP ini. Pertama sarpras yang kami targetkan tuntas Agustus mendatang. Kedua sisi kelembagaan yang terus kami bina secara intensif,” ungkap Saniran.
Indikator Hidup: Baru 35 Persen Koperasi Gelar RAT
Saniran menekankan bahwa pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) menjadi indikator paling nyata koperasi yang aktif. Namun, data hingga awal April 2026 menunjukkan tantangan besar: baru sekitar 35 persen KDKMP di Trenggalek yang telah menggelar RAT.
“RAT menjadi tanda bahwa koperasi benar-benar hidup. Kami menargetkan pada 2027 mendatang, minimal 80 persen koperasi rutin menggelar RAT setiap tahunnya,” tegasnya.
Melalui pembinaan ini, pemerintah ingin memastikan koperasi tidak hanya berdiri secara administratif, tetapi juga beroperasi secara berkelanjutan sebagai motor ekonomi desa.
Masuk Fase Kedua: Menuju Operasional Penuh
Program KDKMP di Trenggalek kini memasuki fase kedua. Setelah menyelesaikan tahap pendirian dan legalitas hukum, pemerintah mengalihkan fokus ke pembangunan fasilitas fisik dan persiapan operasional harian.
Data perkembangan menunjukkan tren positif. Hingga akhir Maret 2026, sebanyak 14 unit KDKMP telah berdiri. Memasuki April, jumlah itu bertambah menjadi 15 koperasi yang siap secara infrastruktur.
Dorong Inovasi: Koperasi Kembangkan Potensi Desa
Saniran meluruskan anggapan bahwa KDKMP hanya bergerak di satu jenis usaha. Pemerintah justru mendorong koperasi desa untuk berinovasi sesuai potensi lokal masing-masing.
“Pilihan gerai sangat beragam. Bisa sembako, klinik kesehatan, apotek, pergudangan, hingga simpan pinjam. Silakan sesuaikan dengan keunggulan desa,” paparnya.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap ekspansi usaha harus melalui analisis bisnis yang matang agar koperasi mampu menghasilkan keuntungan nyata bagi anggota.
Sembako Jadi Andalan Utama
Berdasarkan pemetaan lapangan, sektor sembako masih menjadi primadona ekonomi di Trenggalek karena menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
“Gerai sembako memiliki potensi paling kuat karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari,” jelas Saniran.
Selain itu, koperasi juga mulai mengembangkan layanan kesehatan seperti klinik dan apotek di wilayah strategis untuk memperluas akses masyarakat desa.(CIA)
Views: 22
















