TRENGGALEK, bioztv.id – Geliat ekonomi musiman mulai mewarnai sudut-sudut Kabupaten Trenggalek menjelang puncak tradisi Lebaran Ketupat Durenan. Kawasan pasar basah Trenggalek kini menjelma menjadi sentra dadakan bagi penjual selongsong ketupat. Namun, di balik tumpukan janur kuning itu, para pengrajin justru menyampaikan kabar kurang menggembirakan terkait penjualan tahun ini.
Salah satu pengrajin, Paito, menggantungkan harapan di trotoar pasar. Ia rutin menjajakan hasil anyamannya di kawasan kota setiap momen Kupatan tiba, meski harus menempuh jarak jauh dari Desa Salam Wates, Kecamatan Dongko.
Lapak sederhana di tepi jalan menjadi tempat bertemunya tradisi leluhur dan kebutuhan pasar. Paito juga tidak sendiri. Puluhan pengrajin lain membuka lapak serupa dan menciptakan pusat ekonomi musiman yang hanya muncul setahun sekali setelah Idulfitri.
“Saya menekuni usaha selongsong ketupat ini sejak 2014. Biasanya pembeli mulai datang pada H+5 Lebaran, dan puncaknya terjadi di H+7 atau sehari sebelum perayaan ketupat,” tutur Paito.
Anyaman Tradisi: Sumber Nafkah dari Sehelai Janur
Dengan keterampilannya, Paito mengubah helai demi helai janur menjadi selongsong ketupat yang rapi. Ia menjualnya dengan harga Rp1.000 per biji dan menawarkan satu ikat berisi 10 buah seharga Rp10.000 bagi pembeli dalam jumlah banyak. Dalam setiap harinya, ia mampu menjual hingga 300 selongsong.
“Biasanya sehari saya bisa menjual sektar 300an ketupat,” ungkapnya.
Untuk bahan baku, Paito membeli janur dari petani kelapa lokal dengan harga sekitar Rp500 per helai. Ia kemudian mengolah bahan sederhana tersebut menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus simbol budaya.
“Janurnya saya ambil langsung dari petani di desa kami, di Salamwates sana,” jelasnya.
Pasar Basah: Pusat Ekonomi Kreatif Musiman
Kawasan pasar basah Trenggalek memegang peran penting bagi pengrajin musiman. Kehadiran mereka dari berbagai desa memudahkan warga mendapatkan perlengkapan memasak sekaligus menggerakkan ekonomi berbasis kearifan lokal. Namun, suasana tahun ini terasa lebih sepi dibanding biasanya.
Realita di Lapangan: Permintaan Menurun Drastis
Meski pembeli tetap datang, Paito merasakan penurunan signifikan dalam volume penjualan. Ia membandingkan kondisi tahun ini dengan tahun sebelumnya yang jauh lebih ramai.
“Kalau saya bandingkan dengan tahun lalu, suasana sekarang lebih sepi. Tidak seramai sebelumnya,” ungkapnya.
Penurunan minat ini membuat penghasilan para pengrajin menjadi tidak menentu. Kini, Paito dan rekan-rekannya berharap lonjakan pembeli terjadi pada puncak penjualan H+7 Lebaran, sehari sebelum perayaan ketupat berlangsung.
Bertahan Menjaga Warisan Budaya
Di tengah perubahan pola konsumsi dan dinamika ekonomi, para pengrajin selongsong ketupat tetap bertahan. Mereka tidak hanya menjual wadah nasi, tetapi juga menjaga warisan budaya daerah.
Anyaman janur kuning yang berjajar di pinggir jalan menjadi simbol kerja keras para pengrajin yang terus menjaga tradisi Kupatan tetap hidup di tengah masyarakat.
“Harapan saya tetap di sehari sebelum perayaan, biasanya itu momen paling ramai,” pungkas Paito.
Meski tidak selalu seramai masa lalu, tradisi Kupatan Durenan terus menunjukkan daya tahannya. Anyaman ketupat tetap hidup dan menemukan tempat di hati masyarakat Trenggalek.(CIA)
Views: 24
















