TRENGGALEK, bioztv.id – Sektor pariwisata Kabupaten Trenggalek kembali mencatat prestasi membanggakan. Desa Wisata Wonocoyo, Kecamatan Panggul, berhasil meraih juara dua kategori Desa Wisata Berbasis Alam tingkat nasional dalam ajang Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2025.
Namun, capaian prestasi nasional ini menyisakan ironi. Hingga awal Desember 2025, Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Trenggalek masih berhenti di bawah 65 persen, atau sekitar Rp 5,9 miliar dari target Rp 9,3 miliar.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa prestasi desa wisata belum mampu mendorong pendapatan daerah secara signifikan?
Wonocoyo Unggul Lewat Wisata Alam dan Konservasi Berkelanjutan
Kepala Bidang Peningkatan Daya Tarik dan Destinasi Pariwisata Disparbud Trenggalek, Tony Widianto, menilai prestasi Wonocoyo membuktikan keberhasilan model pariwisata berbasis pelestarian alam yang Trenggalek kembangkan.
“Alhamdulillah, tahun ini kami kembali meraih prestasi. Wonocoyo berhasil meraih juara dua kategori desa wisata berbasis alam tingkat nasional. Prosesnya panjang, dari sekitar 2.000 pendaftar, akhirnya mereka masuk dua kategori besar,” ujar Tony.
Tony menegaskan keunggulan Wonocoyo terletak pada kekayaan alam yang lengkap dan pengelolaan yang berkelanjutan.
“Wonocoyo itu lengkap. Ada pantai, air terjun, sawah, sungai. Pengelola menyusun paket wisata berbasis pelestarian lingkungan, dan itulah nilai jual utamanya,” jelasnya.
Ekosistem Wisata Matang, Masyarakat Bangun Fasilitas Sendiri
Wonocoyo tidak hanya mengandalkan panorama alam. Masyarakat setempat juga secara aktif membangun fasilitas penunjang wisata yang relatif lengkap untuk ukuran desa.
“Di sana sudah ada hotel, rumah sakit, dan pasar. Wonocoyo juga menjadi ibu kota Kecamatan Panggul, sehingga secara ekosistem wisata sebenarnya sudah sangat siap,” tambah Tony.
Ia menegaskan penguatan wisata Wonocoyo lahir dari proses panjang, bukan hasil instan. Kesadaran masyarakat terhadap konservasi tumbuh sejak lama dan menjadi fondasi utama desa wisata.
“Masyarakat menginisiasi pelestarian alamnya sejak lama. Karena itu, ketika mengikuti lomba nasional, kesiapan mereka sudah matang,” katanya.
Kontribusi PAD Tak Langsung: Wisata Edukasi Lebih Dominan
Meski desa wisata mulai menarik wisatawan minat khusus, seperti mahasiswa, peneliti, dan rombongan studi banding—regulasi belum memungkinkan desa wisata menyumbang PAD secara langsung.
“Segmentasi kunjungan lebih ke wisata edukasi dan minat khusus. Kami juga mengarahkan wisatawan ke destinasi sekitar, seperti Pantai Pelang dan wisata edukasi konservasi penyu,” ungkap Tony.
Menurutnya, kontribusi ekonomi lebih banyak mengalir melalui sektor pendukung.
“Desa wisata memang tidak menyumbang PAD secara langsung. Tetapi Pantai Pelang memberi retribusi, dan hotel menyumbang pajak akomodasi. Kontribusinya mengalir lewat sektor-sektor itu,” tegasnya.
Penghargaan nasional memberi Trenggalek modal promosi yang kuat. Namun, tanpa skema monetisasi yang jelas dan integrasi desa wisata dengan objek penyumbang PAD, prestasi berisiko berhenti sebagai kebanggaan simbolik.(CIA)
Views: 55

















