TRENGGALEK, bioztv.id — Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Trenggalek mulai memasuki tahap operasional. Sejumlah koperasi yang telah menuntaskan pembangunan gedung langsung menerima bantuan sarana usaha berupa truk, kendaraan roda tiga, dan etalase untuk mendukung aktivitas ekonomi desa.
Di saat pemerintah pusat masih menyempurnakan regulasi, sejumlah pengurus koperasi memilih bergerak lebih cepat. Mereka mulai menjalankan usaha secara mandiri dengan memanfaatkan potensi ekonomi lokal yang tersedia di wilayah masing-masing.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Komindag) Kabupaten Trenggalek, Saniran, mengatakan pemerintah hanya menyalurkan bantuan operasional kepada koperasi yang berhasil menyelesaikan pembangunan fisik sesuai target.
“Bagi koperasi yang telah menyelesaikan pembangunan fisik hingga 100 persen, kami langsung menyerahkan tiga fasilitas utama sekaligus, yakni truk operasional, kendaraan roda tiga, dan etalase usaha,” ujar Saniran, Kamis (4/6/2026).
Pemerintah Salurkan Puluhan Armada Operasional
Saniran menjelaskan, pemerintah terus memperkuat kesiapan koperasi dengan menyalurkan berbagai sarana pendukung usaha.
Hingga saat ini, pemerintah telah menyerahkan 37 unit truk, 30 unit kendaraan roda tiga, serta 24 paket furnitur dan etalase toko kepada koperasi yang menyelesaikan pembangunan sesuai ketentuan.
Meski demikian, tidak semua koperasi berhasil merampungkan pembangunan fisik dalam waktu yang sama.
“Saat ini baru sekitar 44 koperasi yang menyelesaikan pembangunan hingga 100 persen. Namun para pekerja terus mempercepat pengerjaan di lapangan dan kami optimistis koperasi lainnya segera menyusul,” katanya.
Pemerintah menargetkan peluncuran program KDMP secara nasional pada Agustus 2026 mendatang.
Lima Koperasi Mulai Menggerakkan Usaha Desa
Sejumlah pengurus koperasi memilih tidak menunggu seluruh regulasi pusat rampung. Mereka mulai menjalankan aktivitas usaha secara terbatas sambil menunggu petunjuk teknis yang lebih rinci.
Saniran menyebut sedikitnya lima koperasi telah memulai operasional dan mengembangkan potensi ekonomi lokal di wilayahnya masing-masing. Kelima koperasi tersebut berada di Munjungan, Sumberbening, Cakul, Tumpuk, dan Pringapus.
“Beberapa koperasi sudah berani memulai operasional secara mandiri. Mereka menangkap peluang dengan mengelola hasil pertanian dan berbagai produk UMKM unggulan desa,” ujar Saniran.
Meski demikian, koperasi-koperasi tersebut masih menjalankan model usaha awal dan belum menerapkan pola operasional KDMP secara penuh.
Komindag Antisipasi Dinamika Regulasi Pusat
Komindag Trenggalek terus menyesuaikan langkah dengan perkembangan regulasi yang dikeluarkan pemerintah pusat.
Perubahan kebijakan tersebut membuat sejumlah koperasi harus meninjau ulang rencana bisnis dan kerja sama yang sebelumnya telah mereka susun.
“Beberapa koperasi sebenarnya sudah menjalin komitmen kerja sama dengan BUMN. Namun perubahan regulasi di tingkat pusat membuat mereka harus menunda sebagian rencana kemitraan tersebut,” ungkap Saniran.
Karena itu, Komindag Trenggalek memilih menunggu petunjuk teknis lanjutan terkait tata kelola usaha, sistem keuangan, dan model operasional KDMP secara nasional.
“Kami masih menunggu petunjuk yang lebih detail dari pemerintah pusat. Dinas Koperasi di seluruh Jawa Timur juga berada pada posisi yang sama,” tambahnya.
KDMP Akan Menjadi Pusat Layanan Ekonomi Desa
Meski regulasi belum sepenuhnya rampung, pemerintah telah merancang konsep besar KDMP sebagai pusat layanan ekonomi terpadu di desa.
Pemerintah tidak hanya menjadikan koperasi sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga sebagai pusat layanan ekonomi masyarakat.
Mengacu pada Instruksi Presiden, setiap KDMP nantinya akan menyediakan berbagai layanan strategis, mulai dari gerai sembako murah, apotek desa, klinik kesehatan, gudang logistik, hingga fasilitas cold storage untuk menyimpan hasil panen petani dan tangkapan nelayan.
“Kami tetap berpedoman pada Instruksi Presiden. Tujuan utamanya adalah menghadirkan layanan sektor riil yang benar-benar dibutuhkan masyarakat desa,” jelas Saniran.
Di luar program KDMP, sejumlah koperasi di Trenggalek juga telah lebih dahulu mengembangkan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Beberapa koperasi bahkan telah menjalin kemitraan dengan program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pemasok kebutuhan pangan dan gizi.
Dengan percepatan pembangunan, penyaluran sarana usaha, serta keberanian sejumlah koperasi memulai operasional lebih awal, Trenggalek menunjukkan kesiapannya menjadikan Koperasi Desa Merah Putih sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal.(CIA)
Views: 1

















