TRENGGALEK, bioztv.id – Ribuan warga memadati Lapangan Budaya Kecamatan Dongko saat panitia menggelar Upacara Adat Ngitung Batih 2026 dengan meriah. Tradisi yang telah berstatus Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia ini tidak lagi sekadar menjadi ritual tahunan. Masyarakat menjadikan acara ini sebagai ruang besar untuk mempertemukan seluruh elemen warga dalam satu ikatan kebersamaan yang kuat.
Melalui tema “Raket Rukun Raharjo”, panitia ingin menegaskan bahwa kebudayaan mampu merekatkan persatuan sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat.
Panitia membuka rangkaian acara dengan kirab budaya yang menampilkan takir plontang, yakni wadah tradisional dari daun pisang berisi aneka sajian dan sesaji khas masyarakat Dongko. Peserta kirab mengarak takir-takir tersebut melintasi jalan protokol kecamatan sebelum memasuki Lapangan Budaya. Selanjutnya dilakukan prosesi doa bersama yang dipimpin tokoh adat setempat.
Ketua Panitia Upacara Adat Ngitung Batih, Didit Sasongko, mengatakan panitia sengaja mengusung tema tersebut untuk memperkuat kembali semangat persatuan masyarakat di tengah keberagaman.
“Pada tahun 2026 ini, kami benar-benar merangkul dan melibatkan seluruh elemen masyarakat Kecamatan Dongko. Mulai dari tokoh agama, perguruan pencak silat, komunitas pemuda, hingga masyarakat umum. Kami menyatukan semuanya, persis seperti filosofi takir plontang yang menyatukan berbagai unsur dalam satu wadah,” ujar Didit Sasongko.
Didit menjelaskan, masyarakat menjadikan takir plontang sebagai ikon utama dalam tradisi Ngitung Batih. Isi takir melambangkan berbagai golongan masyarakat yang kemudian melebur harmonis dalam satu wadah kebudayaan.
“Makna tema tahun ini sangat mendalam. Budaya merekatkan kita, budaya merukunkan kita, dan harapannya budaya pula yang akan menyejahterakan kita semua,” ujarnya.
Merawat Tradisi Leluhur dari Generasi ke Generasi
Didit menuturkan, masyarakat Dongko terus menjaga tradisi Ngitung Batih secara turun-temurun sejak zaman dahulu.
Tradisi ini bermula dari kebiasaan para kepala keluarga yang menghitung jumlah anggota keluarganya atau batih. Setiap keluarga kemudian membuat takir nasi sesuai jumlah anggota keluarga. Mereka juga menyiapkan satu takir khusus yang dihiasi janur atau daun kelapa muda, yang dikenal sebagai takir plontang.
“Takir plontang inilah yang menjadi simbol utama dalam tradisi Ngitung Batih. Melalui wadah sederhana ini, masyarakat mewujudkan nilai kebersamaan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta,” katanya.
Selain mengikuti kirab takir, warga juga membawa hasil bumi dan ternak terbaik mereka sebagai bentuk sedekah bumi.
Warga menghadirkan gunungan jagung, padi, aneka biji-bijian hasil panen, hingga ayam kampung hidup sebagai wujud rasa syukur atas limpahan rezeki selama setahun terakhir.
Momen Paling Seru: Rebutan Berkah dan Ayam Lepas
Prosesi rebutan takir plontang dan pembagian ayam hidup menjadi agenda yang paling dinanti ribuan pengunjung.
Begitu pemuka adat menyelesaikan doa keselamatan, ratusan warga langsung berlari menuju area utama. Mereka berlomba memperebutkan isi takir dan mengejar ayam hidup yang para pejabat serta tokoh masyarakat lepaskan dari atas panggung.
Bagi masyarakat Dongko, tradisi rebutan ini bukan sekadar hiburan. Mereka meyakini isi takir dan ayam tersebut membawa berkah serta melambangkan harapan akan hasil panen dan usaha yang lebih baik pada musim berikutnya.
“Harapan kami tentu saja agar hasil pertanian semakin bagus, panen melimpah, hewan ternak berkembang biak lebih banyak, dan Tuhan memberikan keberkahan untuk seluruh masyarakat,” tutur Didit.
Naik Kelas Menjadi Aset Kebudayaan Nasional
Masyarakat Dongko mulai menggelar Ngitung Batih secara terbuka sejak 2015. Sejak saat itu, mereka terus mengembangkan tradisi tersebut hingga menjadi agenda budaya terbesar di Kecamatan Dongko.
Kerja keras masyarakat membuahkan hasil pada 2023 ketika pemerintah pusat menetapkan Ngitung Batih sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Pada 2024, masyarakat Dongko kembali mencatat prestasi nasional dengan memecahkan rekor MURI melalui pementasan Tari Turonggo Yakso secara serentak dengan jumlah penari terbanyak.
“Alhamdulillah, kami bersyukur acara ini terus berkembang setiap tahunnya. Kami berharap ke depan semakin banyak pihak yang ikut menyokong agar tradisi luhur ini tetap lestari,” harap Didit.
Simbol Doa dan Identitas Budaya Trenggalek
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Tony Widianto, menempatkan Ngitung Batih sebagai salah satu agenda budaya paling penting di Kabupaten Trenggalek.
Menurut Tony, masyarakat secara rutin menggelar upacara adat ini setiap 1 Suro sebagai bentuk doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan hidup, dan kemakmuran daerah.
“Ngitung Batih ini sudah menjadi urat nadi masyarakat selama puluhan tahun dan kini telah mendapat pengakuan negara sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Dari tahun ke tahun, saya melihat kreativitas kemasannya semakin menarik, rangkaian acaranya semakin padat, dan partisipasi masyarakat juga semakin besar,” puji Tony.
Tony menilai perkembangan tersebut membuktikan tingginya kepedulian generasi muda dan masyarakat Dongko terhadap pelestarian warisan leluhur.
“Ini merupakan salah satu upacara adat paling meriah di Kabupaten Trenggalek. Kami memandangnya sebagai aset budaya yang sangat berharga dan harus kita jaga bersama,” pungkasnya.(CIA)
Views: 3

















