TRENGGALEK, bioztv.id – Kabupaten Trenggalek mencatat tren penurunan angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) melaporkan rata-rata kelahiran kini hanya berkisar 20 hingga 30 anak per hari.
Kepala Disdukcapil Trenggalek, Ririn Eko Utoyo, menyebut Dinas Kesehatan (Dinkes) menyimpan data detail kelahiran. Namun, laporan yang masuk ke Disdukcapil untuk penerbitan akta lahir sudah cukup menggambarkan grafik penurunan.
“Kalau saya melihat data dari Dinkes, tahun 2024 itu sekitar 7.000 kelahiran, padahal sebelumnya rata-rata bisa 8.000. Jadi memang ada kecenderungan turun,” ungkap Ririn.
Penurunan Kelahiran: Cermin Perubahan Sosial
Fenomena turunnya angka kelahiran di Trenggalek bukan sekadar statistik. Masyarakat kini mengubah pola hidup mereka. Banyak pasangan muda memilih menunda punya anak karena alasan ekonomi, karier, maupun kesadaran akan pentingnya perencanaan keluarga.
Tren ini selaras dengan kondisi nasional. Angka kelahiran di Indonesia juga turun karena keluarga semakin sadar akan pentingnya program berencana dan pola hidup yang bergeser. Namun, jika tren ini terus berlanjut, perubahan tersebut bisa memengaruhi struktur demografi, terutama jumlah penduduk usia produktif di masa depan.
Ririn menegaskan pemerintah tetap mencatat setiap kelahiran di Trenggalek meskipun jumlahnya menurun. Ia memastikan petugas Disdukcapil tidak melewatkan administrasi kependudukan.
“Semua yang masyarakat laporkan ke kami pasti kami tindak lanjuti. Kami tetap memfasilitasi hak sipil anak, mulai dari penerbitan NIK, akta kelahiran, sampai KIA,” tegasnya.
Ririn juga mengingatkan para orang tua untuk segera melaporkan kelahiran anak mereka ke Disdukcapil. Ia menekankan bahwa pencatatan cepat mempermudah anak mengakses berbagai layanan publik, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga jaminan sosial.
Tantangan bagi Pemerintah Daerah
Penurunan angka kelahiran menghadirkan dua sisi. Pemerintah bisa lebih mudah mengendalikan beban populasi. Namun, jumlah penduduk usia produktif di masa depan berisiko turun signifikan. Kondisi itu bisa mengganggu ketersediaan tenaga kerja, perkembangan ekonomi lokal, hingga keberlanjutan pembangunan daerah.
Fenomena ini memaksa pemerintah daerah menyiapkan strategi jangka panjang di bidang kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi.
“Menurunnya angka kelahiran bukan berarti masalah selesai. Justru kita perlu memastikan anak-anak yang lahir mendapat kualitas hidup lebih baik. Itu investasi untuk masa depan Trenggalek,” pungkas Ririn. (CIA)
Views: 75
















