TRENGGALEK, bioztv.id – Demi penuhi target belanja pegawai 30%, Pemerintah Kabupaten Trenggalek harus meningkatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Hingga Rp 3 Triliun. Namun, upaya ini masih terganjal regulasi. Sejumlah Peraturan Daerah (Perda) yang berkaitan dengan potensi pendapatan daerah hingga kini belum ditindaklanjuti dengan Peraturan Bupati (Perbup), sehingga pelaksanaannya mandek di lapangan.
Ketua Panitia Khusus (Pansus) RPJMD DPRD Trenggalek, Sukarodin, menegaskan hal ini saat rapat pembahasan RPJMD 2025-2029. Ia menyebut, sekuat apa pun target pendapatan dicanangkan, tanpa dukungan aturan teknis berupa Perbup, optimalisasi PAD hanya akan menjadi wacana kosong.
“Banyak perda yang sudah disahkan, tapi tindak lanjut Perbup-nya belum dibuat. Padahal idealnya maksimal enam bulan setelah perda turun, Perbup itu sudah harus ada,” tegas Sukarodin.
Menurutnya, ketertinggalan ini menjadi salah satu penyebab lambannya peningkatan PAD Trenggalek, khususnya dari sektor pajak restoran, hotel, dan pariwisata. Apalagi di tengah rencana perubahan struktur organisasi, di mana Dinas Pendapatan Daerah akan berdiri sendiri, langkah percepatan regulasi menjadi keharusan.
“Kalau nanti Dinas Pendapatan sudah berdiri sendiri, SDM-nya ditambah, tentu kita harapkan bisa lebih serius menggenjot PAD. Tapi regulasi teknisnya harus jalan dulu,” imbuhnya.
Target Belanja Infrastruktur 40 Persen, PAD Harus Naik Ekstrem
Sukarodin mengingatkan, sesuai regulasi terbaru, pada tahun 2027 nanti komposisi anggaran daerah harus mengalokasikan 40 persen untuk infrastruktur dan maksimal 30 persen untuk belanja pegawai. Dengan kondisi belanja pegawai saat ini masih sekitar 40 persen dari APBD, Trenggalek mau tidak mau harus menaikkan pendapatan daerah secara signifikan.
“Kalau mau belanja pegawai turun ke 30 persen, belanja infrastruktur bisa 40 persen, idealnya APBD kita tahun 2027 sudah Rp 3 triliun. Sekarang saja belanja pegawai kita Rp 1,1 triliun. Artinya kerja keras harus kita mulai dari sekarang,” ujar Sukarodin.
Potensi Pariwisata Besar, tapi Realisasi PAD Masih Jeblok
Sektor pariwisata, yang selama ini menjadi andalan, menurut Sukarodin juga masih jauh dari harapan. Meskipun jumlah kunjungan wisatawan di awal 2025 meningkat, realisasi PAD dari sektor ini justru anjlok. Kondisi ini dinilainya cukup ironis dan harus segera dievaluasi.
“Investasi di sektor wisata memang mahal, sementara kemampuan fiskal kita terbatas. Jadi yang logis itu ya mengoptimalkan destinasi yang ada dulu, benahi, lalu dorong bertahap,” kata dia.
Ia juga menyebut, potensi kawasan wisata Trenggalek ke depan cukup prospektif, apalagi dengan tersambungnya Jalur Lintas Selatan (JLS) dan proyek-proyek wisata baru di sekitar Trenggalek. Skema paket wisata lintas daerah seperti di Jogja bisa menjadi peluang, asalkan tata kelola dan pendapatan dari retribusi bisa dimaksimalkan.
“Sekarang tinggal bagaimana kita bisa menegakkan perda yang ada, dan mempercepat perbupnya. Kalau tidak, ya sektor PAD kita jalan di tempat terus,” tutupnya.(CIA)
Views: 22

















