TRENGGALEK, bioztv.id – Kabupaten Trenggalek semakin serius dalam menggarap potensi alamnya melalui inisiatif besar: mewujudkan Arboretum Bambu terlengkap di Indonesia. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Menteri Lingkungan Hidup Dr. Hanif Faisol Nurofiq, yang secara simbolis menanam beberapa jenis bambu di Kebun Bambu Dilem Wilis, Kecamatan Bendungan, Sabtu (21/12).
Dalam kunjungannya, Menteri Hanif menegaskan pentingnya pengelolaan ekologi yang berpadu dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bambu memiliki manfaat luar biasa, tidak hanya dalam menjaga tata air dan mengikat tanah, tetapi juga mendukung ekonomi masyarakat melalui berbagai produk turunannya.
“Pak Bupati ingin menjadikan Trenggalek sebagai pusat Arboretum Bambu terlengkap, dan kami mendukung sepenuhnya,” ungkapnya.
Langkah Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, diapresiasi karena berani mengambil inisiatif memperkuat ekosistem hulu sungai dengan menanam lebih dari 20 ribu pohon bambu.
Menurut Hanif, langkah ini merupakan solusi konkret untuk mengurangi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor, yang kerap terjadi di wilayah bawah. Bambu memiliki akar yang bisa menembus hingga dua meter, mengikat tanah dengan kuat, dan menjaga top soil yang rentan di wilayah seperti Trenggalek.
“Dengan tata kelola yang baik, kawasan ini bisa menjadi model pengelolaan lingkungan dan ekonomi berbasis bambu,” jelas Menteri Hanif.
Mas Ipin, yang mendampingi Menteri Hanif, mengungkapkan bahwa kawasan Dilem Wilis menjadi kunci bagi kehidupan masyarakat Trenggalek.
“Hampir 30% suplai air di Trenggalek berasal dari sini. Jika kawasan ini terjaga, bencana bisa diminimalisir, ekonomi bisa berjalan, dan kita tidak perlu menanggung biaya bencana yang besar,” ujarnya.
Bupati juga menyoroti potensi ekonomi bambu yang telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya perempuan. Bahkan, anak-anak muda Trenggalek sudah berhasil mengekspor produk berbasis bambu seperti sedotan dan keranjang.
“Banyak ibu-ibu yang menganyam bambu untuk dijadikan reyeng, wadah ikan pindang, hingga parcel hajatan. Ini bukti bahwa ekonomi dan ekologi bisa berjalan beriringan,” tegas Mas Ipin.
Menteri Hanif juga menyoroti fakta bahwa sekitar 21% lahan di Trenggalek tergolong kritis. Oleh karena itu, ia berkomitmen mendukung upaya reboisasi dan rehabilitasi kawasan bersama Bupati Trenggalek. Terlebih Trenggalek memiliki tutupan hutan yang mencapai 56%.Capaian ini menjadi salah satu yang terbesar di Jawa.
“Dengan kerja sama yang baik, kita bisa meningkatkan kualitas tutupan lahan dan memastikan keberlanjutan ekosistem,” tambahnya.
Tak hanya itu, Mas Ipin mengungkapkan rencana pembangunan kampus hijau di lahan seluas 20 hektare di sekitar Dilem Wilis. Ia berharap keberadaan kampus ini dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
“Manfaat penanaman ini mungkin tidak langsung terlihat, tetapi anak cucu kita yang akan merasakannya. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan menjadi amal jariah bagi semua pihak yang terlibat,” tutup Mas Ipin.(CIA)
Views: 1

















