TRENGGALEK, bioztv.id – Dunia pendidikan di Kabupaten Trenggalek menghadapi tantangan serius. Meski memiliki sekitar 4.000 tenaga pengajar, Dinas Pendidikan setempat mencatat kekurangan guru menembus 1.114 orang hingga Mei 2026.
Kepala Bidang Pemetaan dan Pengembangan Pendidikan Dinas Pendidikan Trenggalek, Wawan Catur Prasetyo, mengungkapkan angka kekurangan ini terus meningkat setiap tahun. Gelombang pensiun massal yang tidak diimbangi rekrutmen guru baru menjadi penyebab utama.
“Setiap tahun sekitar 300 guru memasuki masa pensiun. Kondisi ini terus mendorong kenaikan angka kekurangan guru,” ujar Wawan.
Guru SD Jadi Posisi Paling Kritis
Wawan menjelaskan bahwa sekolah dasar (SD) merasakan dampak paling besar, terutama pada posisi guru kelas. Tim Dinas Pendidikan saat ini masih merinci kebutuhan guru secara detail di jenjang SD dan SMP.
“Kalau melihat kondisi di lapangan, kekurangan paling mencolok terjadi pada formasi guru kelas,” jelasnya.
Selain pensiun, kasus guru meninggal dunia juga menambah jumlah kekosongan. Namun, mayoritas posisi kosong tetap berasal dari guru yang telah menyelesaikan masa tugasnya.
Guru Terpaksa Rangkap Tugas
Pemerintah daerah belum menetapkan skema konkret untuk menutup kekurangan tersebut. Untuk menjaga kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, Dinas Pendidikan memaksimalkan tenaga yang ada.
“Untuk sementara, guru yang ada harus mengisi kelas kosong. Mereka harus merangkap tugas,” kata Wawan.
Kondisi ini meningkatkan beban kerja guru. Mereka mengajar lebih dari satu kelas sekaligus atau menggantikan rekan yang telah pensiun agar siswa tetap menerima materi pelajaran.
63 Kursi Kepala Sekolah Juga Kosong
Selain kekurangan guru, Trenggalek juga menghadapi krisis kepemimpinan sekolah. Sebanyak 63 jabatan kepala sekolah hingga kini belum terisi pejabat definitif.
“Per Mei ini, kami mencatat 53 posisi kepala SD dan 10 kepala SMP masih kosong,” ungkap Wawan.
Dinas Pendidikan menunjuk kepala sekolah aktif sebagai Pelaksana Tugas (Plt) untuk mengisi kekosongan tersebut. Namun, kebijakan ini membuat satu kepala sekolah harus memimpin dua sekolah sekaligus.
“Kondisi ini tentu membuat manajemen dan pengawasan sekolah tidak bisa berjalan maksimal,” tambahnya.
Tunggu Seleksi Definitif
Penunjukan Plt menjadi solusi sementara sambil menunggu seleksi kepala sekolah definitif. Wawan berharap pemerintah segera mengisi jabatan tersebut agar operasional sekolah kembali optimal.
“Ini hanya solusi jangka pendek. Kami berharap pengisian jabatan definitif segera dilakukan,” pungkasnya.
Tanpa langkah rekrutmen besar dan kebijakan sistematis, krisis guru di Trenggalek berpotensi semakin memburuk seiring tingginya angka pensiun setiap tahun.(CIA)
Views: 5
















