PEKANBARU, bioztv.id – Pulau Semut, yang terletak di Kelurahan Limbungan, Kecamatan Rumbai Timur, Kota Pekanbaru, semakin dikenal wisatawan domestik. Kondisi ini menarik perhatian salah satu Mahasiswa ITB-AD Jakarta untuk membantu pengembangan ecowisata ini agar lebih baik dan bermanfaat.
Melihat potensi yang besar, Syahril, mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta, melakukan analisis pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Pulau Semut sebagai bagian dari proyek independennya. Terlebih, sebagai salah satu destinasi ekowisata yang semakin dikenal, Pulau Semut juga mencatat kunjungan sebanyak 15.785 wisatawan domestik sepanjang tahun 2023.
“Dengan pendekatan eco-district, kami berupaya mengintegrasikan konsep keberlanjutan dalam semua aspek pengembangan, dari pelestarian lingkungan hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.” ujar Syahril.
Dengan fokus utama pada masyarakat Kampung Pengambang yang berada di sekitar Pulau Semut, Syahril berharap pengembangan ini dapat membawa manfaat ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat setempat.
“Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat tidak hanya tentang meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat lokal dapat terlibat dan mendapatkan manfaat langsung dari pariwisata tersebut,” imbuhnya.
Sebagai langkah awal, Syahril melakukan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi dalam pengembangan ekowisata di Pulau Semut.
Dari segi kekuatan atau daya tarik, Pulau Semut memiliki aset alam dan budaya yang kaya, serta infrastruktur dasar yang sudah ada. Syahril menekankan pentingnya memanfaatkan potensi ini dengan melibatkan masyarakat lokal secara aktif.
“Keterlibatan masyarakat adalah kunci keberhasilan ekowisata berbasis masyarakat,” tambahnya.
Dari segi kelemahan, Pulau semut memiliki beberapa tantangan. DIantaranya termasuk infrastruktur yang belum memadai dan keterampilan masyarakat yang perlu ditingkatkan.
“Pelatihan dan peningkatan kapasitas menjadi solusi penting untuk mengatasi kelemahan ini,” jelas Syahril.
Dari segi peluang, tren pariwisata global yang mendukung ekowisata, serta dukungan dari pemerintah dan sektor swasta merupakan peluang besar. Terlebih, ecowisata ini mampu menghadirkan berbagai atraksi destinasi yang menarik, diantaranya seperti panahan, memancing, susur sungai, hingga pacuan kuda.
“Kami melihat potensi besar dalam kemitraan antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta untuk pengembangan ini,” ungkap Syahril.
Disisi lain, potensi ini tak luput dari ancaman atau potensi buruk. Pasalnya, perubahan kebijakan dan dampak lingkungan menjadi ancaman yang perlu diantisipasi.
“Penting bagi kami untuk merancang strategi mitigasi yang dapat mengurangi risiko dari ancaman-ancaman ini,” kata Syahril.
Proyek ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat Kampung Pengambang, tetapi juga bagi pemerintah desa setempat. Masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pendapatan melalui kegiatan ekowisata seperti pemandu wisata, penyewaan homestay, dan penjualan produk lokal.
“Selain itu, pelatihan yang dilakukan akan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat dalam bidang pariwisata dan pelestarian lingkungan,” tegas Syahril.
Syahril juga berharap, peningkatan kunjungan wisatawan kedepannya dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan desa. Yakni adanya potensi peningkatan pendapatan desa melalui retribusi dan pajak pariwisata.
“Selain itu, pengembangan infrastruktur dasar seperti jalan dan fasilitas sanitasi akan turut mendorong pembangunan berkelanjutan di desa,” imbuhnya.
Bagi Syahril, proyek pendampingan ini menjadi pengalaman berharga dalam menerapkan teori yang telah dipelajarinya di bangku kuliah ke dalam situasi nyata. Pasalnya, saat mengenyam pendidikan di bangku kuliah, ia lebih banyak belajar secara teori.
“Proyek ini memberi saya kesempatan untuk mengembangkan keterampilan manajemen proyek, analisis data, dan membangun jaringan profesional dengan berbagai pemangku kepentingan,” ungkapnya.
Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Pulau Semut melalui analisis SWOT ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, namun juga memperkuat kapasitas dan kesejahteraan masyarakat.
“Semoga pengembangan ini mampu mendukung pembangunan desa, serta memberikan pengalaman berharga dan peluang belajar bagi semua yang terlibat,” pungkasnya. (MMA)
Views: 48

















