Tradisi Kupatan Durenan, Trenggalek, Sisi Lain Asyiknya Berebut Tumpeng Ketupat Raksasa Usai dikirab

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Ribuan warga tumpah ruah di Kecamatan Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, untuk mengikuti kemeriahan tradisi Kupatan. Acara ini diawali dengan kirap tumpeng ketupat raksasa dari Pondok Pesantren Babul Ulum. Momen berebut tumpeng ketupat dan pesta ketupat gratis turut menambah kemeriahan tradisi ini.

Saat momen perayaan lebaran ketupat pada Rabu (17/4/2024), berbagai kegiatan keagamaan hingga hiburan turut digelar, seperti kirap ketupat dan berebut tumpeng ketupat raksasa. Perayaan ini merupakan bentuk rasa syukur warga , setelah enam hari melaksanakan puasa sunnah syawal.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan, KH Fattah Mu’in, tradisi Kupatan di Durenan telah berlangsung lebih dari 300 tahun, sejak didirikan oleh Mbah Kyai Mesir. Awalnya, tradisi ini hanya dilakukan di lingkungan pondok pesantren, namun seiring waktu, tradisi ini berkembang dan diikuti oleh seluruh masyarakat.

“Dulu cuman satu rumah, kemudian waktu zaman ayah saya itu menjadi tiga rumah. Selanjutnya sekarang sudah bisa melebarkan hingga masyarakat luas,” Ujar KH Fattah Mu’in.

Pada zaman dulu, biasanya masyarakat kalau belum waktu lebaran kupatan merasa tidak enak jika akan sowan ke Pondok Pesantren Babul Ulum. Karena umumnya keluarga Ponpes puasa semua.

“Tradisi Kupatan memiliki makna rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Tradisi ini juga menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan antar masyarakat,” Ungkap KH Fattah Mu’in.

Lebih lanjut KH Fattah Mu’in menjelaskan, tradisi Kupatan ini terus dilestarikan oleh keluarga pondok dan masyarakat dengan penuh komitmen. Tradisi ini menjadi bagian penting dari budaya dan identitas masyarakat Trenggalek.

Salah satu pengunjung asal Blitar, Dewi, mengaku sudah tiga kali mengikuti tradisi Kupatan di Trenggalek. Ia sengaja datang ke Durenan karena anaknya mondok di salah satu Ponpes yang ada di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan. Ia merasa senang dapat mengikuti tradisi ini. Bahkan ia juga rela ikut desak desakan berebut ketupat dari tumpeng raksasa yang dikirab.

“Tadi saya juga mendapat ketupat dari tumpeng yang dikirab. Nanti ketupatnya akan saya bagi bagikan di rumah. Saya senang sekali bisa mengikuti ritual tradisi lebaran ketupat di Trenggalek ini,” Ujar Dewi

Tradisi Kupatan di Trenggalek telah menjadi daya tarik wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah pengunjung setiap tahunnya.

Kemeriahan Tradisi Kupatan menjadi bukti kekayaan budaya dan tradisi di Trenggalek. Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memiliki makna religius dan sosial yang mendalam.(CIA)

Views: 1