Insiden Ambulans SIgaling Trenggalek Pecah Ban di Surabaya, Terselamatkan Berkat Jaringan BPBD

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Perjalanan relawan ambulans asal Trenggalek tidak selalu berjalan mulus. Soegeng Kuncahyo, relawan Ambulans Si Galing, mengalami kejadian tak terduga saat ia mengantar pasien dari Desa Sukorame, Kecamatan Gandusari, menuju RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Saat melintas di Jalan Diponegoro Surabaya pukul 04.00 WIB, ban mobil ambulans pecah. Masalah semakin rumit karena kunci roda yang ia bawa tidak berfungsi. Sejak pukul 04.30 WIB, Soegeng berkeliling mencari bantuan, bahkan menyisir pasar loak demi mendapatkan kunci roda pengganti, tetapi usahanya gagal.

“Saya benar-benar bingung. Saya sudah mencoba menghubungi beberapa nomor darurat di Surabaya, tapi tidak ada yang bisa membantu. Padahal pasien harus tiba di rumah sakit sebelum jam reservasi, pukul 08.45 WIB,” cerita Soegeng Kuncahyo alias Cak Kun.

Bantuan Datang Berkat Jaringan BPBD

Dalam kondisi panik, Cak Kun akhirnya menghubungi Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Atmono. Dari sinilah jalan keluar muncul. Triadi langsung mengoordinasikan dengan BPBD Kota Surabaya untuk proses evakuasi kedaruratan.

“Alhamdulillah, berkat komunikasi Pak Triadi dengan BPBD Kota Surabaya, saya akhirnya mendapat pertolongan,” ujar Cak Kun.

Tak lama kemudian, dua petugas BPBD Surabaya tiba di lokasi. Dua relawan ambulans juga ikut datang membantu. “Mereka membawa peralatan lengkap dan langsung melepas roda ambulans saya,” ungkapnya.

Sebelum bantuan tiba, Soegeng terpaksa mengevakuasi pasien menggunakan angkot. Ia mengira ongkos perjalanan darurat itu akan ringan atau bahkan gratis, tetapi sopir angkot justru meminta Rp250 ribu.

“Jaraknya tidak jauh, hanya dari Diponegoro ke Karang Menjangan,” jelasnya.

Karena merasa keberatan, ia mencoba meminta keringanan, hingga akhirnya sopir angkot sepakat menurunkan biaya menjadi Rp200 ribu. Meski cukup mahal, Cak Kun tetap membayar karena situasinya darurat.

“Saya kira kalau menolong pasien ya seikhlasnya, ternyata malah segitu. Ya sudahlah, intinya pasien bisa segera sampai rumah sakit,” ucapnya pasrah.

Pentingnya Koordinasi Lintas Daerah

Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, membenarkan kejadian itu. Ia menerima telepon langsung dari relawan Si Galing saat kondisi darurat terjadi di Surabaya. Menurutnya, kasus ini membuktikan pentingnya koordinasi lintas daerah, terutama dalam kondisi medis darurat.

“Cak Kun sudah kebingungan, lalu menghubungi saya. Kami segera berkoordinasi dengan BPBD Surabaya. Beruntung, responsnya cepat,” jelas Triadi.

Selain memperbaiki ban, BPBD Surabaya juga menyiagakan dua ambulans tambahan sebagai langkah antisipasi. Triadi pun menyampaikan apresiasi atas dukungan cepat tersebut.

“Saya sangat berterima kasih kepada BPBD Surabaya yang sigap membantu relawan ambulans asal Trenggalek. Respons mereka cepat dan tepat,” tegasnya.

Kisah ini menggambarkan betapa berat perjuangan relawan di lapangan. Di balik suara sirene ambulans yang meraung, tersimpan cerita tentang ban pecah, alat yang tidak berfungsi, ongkos darurat yang mengejutkan, hingga rasa lega ketika bantuan akhirnya tiba tepat waktu.(CIA)

Views: 294