TRENGGALEK, bioztv.id – Di balik sirene ambulans yang meraung di jalan, tersimpan kisah perjuangan relawan yang bekerja tanpa pamrih. Salah satunya Soegeng Kuncahyo, relawan Ambulans Si Galing asal Trenggalek. BPBD Trenggalek akhirnya memberikan penghargaan kepadanya atas dedikasi kemanusiaan yang ia jalani sejak 2023.
BPBD menyerahkan penghargaan itu dalam apel peningkatan kapasitas Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) Multisektor Kabupaten Trenggalek di Lapangan Rejowinangun, Selasa (23/9/2025). Apel ini melibatkan OPD, pemerintah kecamatan, hingga TNI untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana.
Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, menyebut penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi nyata. Menurutnya, Relawan Ambulan Si Galing sudah terbukti konsisten melayani masyarakat secara swadaya sejak 2023.
“Kegigihan misi kemanusiaan relawan Ambulan Sigaling, Pak Soegeng Kuncahyo ini patut diapresiasi,” ungkap Triadi.
Perjuangan di Tengah Malam dan Bantuan Tak Terduga
Sehari sebelum menerima penghargaan, Soegeng menghadapi kisah heroik saat mengantar pasien dari Desa Sukorame, Gandusari, ke Surabaya. Ban ambulans yang ia kemudikan pecah di Jalan Diponegoro sekitar pukul 04.00 WIB. Situasi makin rumit karena kunci roda tidak berfungsi.
“Saya bingung. Sejak pukul 04.30 saya berusaha mencari bantuan, tapi tidak ada yang menolong. Bahkan beberapa ambulans lewat begitu saja tanpa berhenti,” tutur Soegeng.
Dalam kondisi putus asa, Soegeng menghubungi Triadi Atmono. BPBD Trenggalek pun langsung berkoordinasi dengan BPBD Surabaya. Tak lama kemudian, dua petugas datang membawa peralatan lengkap untuk mengganti roda ambulans.
“Alhamdulillah, berkat Pak Triadi, BPBD Surabaya merespons cepat. Mereka juga mendatangkan dua relawan ambulans ke lokasi,” tambahnya.
Sebelum bantuan tiba, Soegeng terpaksa mengevakuasi pasien dengan angkot. Ia mengira biayanya ringan atau bahkan gratis, tetapi sopir angkot meminta Rp250 ribu. Setelah menawar, ia akhirnya membayar Rp200 ribu.
“Ya sudahlah, yang penting pasien bisa segera sampai rumah sakit. Meskipun agak kaget dengan biaya itu, saya tetap bersyukur karena ada yang mau membantu,” ucapnya.
Apresiasi Atas Dedikasi Relawan
Triadi Atmono menegaskan bahwa kisah Soegeng mencerminkan pengabdian relawan yang bekerja tanpa pamrih. Ia juga mengapresiasi respons cepat BPBD Surabaya yang menyiagakan dua ambulans tambahan.
“Karena itu, kami merasa perlu memberi penghargaan kepada Cak Kun dan Ambulans Si Galing atas dedikasinya,” jelas Triadi.
Bagi Cak Kun, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan pengingat bahwa perjuangan kemanusiaan harus terus berjalan.
“Saya hanya ingin membantu masyarakat yang butuh ambulans, entah untuk pasien sakit atau keluarga yang mengantar jenazah,” ungkapnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa di balik keterbatasan fasilitas, masih ada relawan yang tulus berjuang demi kemanusiaan. BPBD Trenggalek berharap, penghargaan ini bisa memotivasi relawan lain agar terus menguatkan jiwa gotong royong.
“Kalau ada warga yang terbantu, itu sudah cukup buat saya,” tutup Cak Kun dengan mata berbinar.(CIA)
Views: 63

















