TRENGGALEK, bioztv.id – Temuan bakteri Bacillus cereus pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Karangan mendorong Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Trenggalek mengevaluasi seluruh alur produksi.
Satgas kini menyoroti durasi pemorsian dan jeda waktu tunggu makanan sebelum petugas menyerahkannya kepada penerima manfaat.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, meminta armada pengirim segera mendistribusikan makanan yang sudah selesai dikemas pada tahap awal.
Langkah tersebut bertujuan mencegah pengelola menumpuk makanan siap saji terlalu lama di ruang produksi.
Terapkan Sistem First In, First Out pada Alur Pemorsian
Sunarto menjelaskan pengelola membutuhkan manajemen waktu yang presisi saat memproduksi makanan dalam jumlah besar.
Proses pemorsian bertahap dapat membuat kemasan yang selesai lebih awal menunggu lebih lama.
Karena itu, Satgas meminta pengelola SPPG menerapkan sistem first in, first out. Petugas harus lebih dulu mengirim makanan yang selesai mereka porsikan lebih awal.
“Makanan yang masuk tahap pemorsian awal harus segera kita distribusikan agar siswa dapat mengonsumsinya lebih cepat,” tegas Sunarto.
Sunarto juga mengingatkan petugas agar tidak menumpuk kemasan awal di bawah wadah makanan yang baru mereka kemas.
Penumpukan tersebut dapat memperpanjang waktu tunggu. Apalagi, satu dapur SPPG memproduksi lebih dari seribu porsi makanan setiap hari.
Hitung Mundur Jam Masak demi Jaga Kesegaran Makanan
Satgas MBG meminta SPPG mengubah pola penjadwalan dapur untuk memangkas jeda antara memasak, distribusi, dan waktu konsumsi.
Pengelola dapat menggunakan metode hitung mundur atau back-calculation. Juru masak menentukan waktu konsumsi siswa terlebih dahulu, lalu menyesuaikan jadwal pengolahan makanan.
“Sistemnya sekarang kita hitung mundur. Kita tentukan dulu jam berapa makanan akan dikonsumsi siswa, baru kemudian jadwal memasak kita dekatkan dengan jam tersebut,” jelas Sunarto.
Satgas mengatakan telah menginstruksikan pola penjadwalan tersebut kepada seluruh pengelola SPPG di Kabupaten Trenggalek.
Kendalikan Risiko Kontaminasi pada Produksi Skala Besar
Sunarto menjelaskan pengolahan MBG dalam skala besar memiliki tantangan berbeda dengan kegiatan memasak rumah tangga.
Puluhan tenaga kerja dan alur produksi yang lebih kompleks dapat meningkatkan potensi kontaminasi silang jika petugas tidak menjaga standar higiene.
“Mengolah makanan dalam jumlah besar dengan melibatkan banyak pekerja tentu memiliki risiko kontaminasi yang lebih tinggi jika standar higiene tidak terjaga,” ungkapnya.
Karena itu, Satgas meminta pengelola SPPG memperketat pengawasan kebersihan pekerja selama menjalankan aktivitas di area produksi.
Perketat Kebersihan dan Atur Aktivitas ke Toilet
Satgas juga menyoroti kedisiplinan personal pekerja dapur. Salah satunya menyangkut aktivitas keluar-masuk toilet selama proses penyiapan makanan.
Sunarto meminta pekerja menyelesaikan prosedur sanitasi diri sebelum memasuki area pengolahan makanan.
Langkah tersebut bertujuan mencegah perpindahan kuman ke peralatan dan wadah makanan.
“Jika pekerja sering keluar-masuk toilet saat produksi, risiko pencemaran kuman ke makanan akan meningkat tajam,” perjelas Sunarto.
Kondisi 77 Penerima Manfaat Sudah Membaik
Laboratorium sebelumnya menemukan Bacillus cereus pada sampel acar timun wortel dan tempe mendoan SPPG Karangan.
Sebanyak 77 penerima manfaat sempat mengalami keluhan pencernaan dalam rangkaian kejadian tersebut.
Satgas masih mencocokkan hasil pemeriksaan laboratorium dengan alur produksi di lapangan. Namun, Sunarto memastikan seluruh penerima manfaat sudah mendapat perawatan medis.
“Berdasarkan laporan pemantauan terakhir, kondisi 77 penerima manfaat yang sempat mengeluhkan sakit perut kini seluruhnya sudah membaik,” pungkas Sunarto.(CIA)
Views: 7
















