TRENGGALEK, bioztv.id — Capaian 113 persen dalam Sensus Ekonomi 2026 di Kabupaten Trenggalek belum menandai berakhirnya proses pendataan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Trenggalek masih menyisir sekitar 10 persen sasaran di lapangan karena petugas terus menemukan keluarga dan unit usaha baru di luar daftar awal.
Hingga Selasa (18/8/2026), rekapitulasi BPS sudah mencapai 113 persen dari prelist atau daftar awal responden. Namun, BPS mengingatkan publik agar tidak menganggap angka tersebut sebagai tanda bahwa sensus telah selesai.
Kepala BPS Trenggalek, Abu Amar, menjelaskan bahwa prelist hanya menjadi pijakan awal bagi petugas. Kondisi lapangan yang terus berubah membuat peta kependudukan dan aktivitas ekonomi ikut bergerak.
“Petugas tidak bisa menjadikannya sebagai acuan mutlak. Kondisi riil di lapangan menunjukkan banyak keluarga yang sudah pindah, meninggal dunia, atau tidak petugas temukan,” ujar Abu Amar, Selasa (18/8/2026).
Temuan Lapangan Melampaui Daftar Awal
Tantangan Sensus Ekonomi 2026 muncul ketika petugas mendatangi alamat warga satu per satu.
Petugas menemukan banyak responden dalam prelist yang sudah pindah dari alamat lama. Pada saat yang sama, mereka juga menemukan rumah tangga dan unit usaha baru yang belum tercatat dalam data administratif.
BPS kemudian memasukkan seluruh temuan baru tersebut ke dalam basis data sensus.
“Jika petugas menemukan entitas baru di luar prelist, kami wajib mendatanya. Meskipun perolehan dari prelist sudah melampaui 100 persen, proses di lapangan belum selesai karena petugas masih menemukan banyak hal baru,” terangnya.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa capaian 113 persen belum menggambarkan keseluruhan kondisi ekonomi di lapangan.
BPS memperkirakan petugas masih harus menuntaskan sekitar 10 persen sasaran pendataan. Sementara itu, temuan keluarga dan unit usaha baru turut menambah volume data hingga sekitar 13 persen.
Kondisi ini membuat BPS tidak cukup hanya mengejar target kuantitatif. Petugas juga harus memastikan setiap data mencerminkan kondisi ekonomi warga secara akurat.
Bongkar Usaha Rumahan, Makelar hingga Bisnis Online
Petugas sensus tidak hanya mendata sektor usaha formal. Mereka juga menyisir aktivitas ekonomi yang berlangsung dari rumah.
Aktivitas tersebut mencakup perdagangan eceran, jasa perantara atau makelar, hingga bisnis daring (online) yang warga jalankan dari rumah.
“Aktivitas ekonomi keluarga itu bentuknya beragam, bisa berupa toko online, transaksi jual beli, hingga jasa makelar,” beber Abu Amar.
Usaha tanpa papan nama menjadi salah satu tantangan bagi petugas sensus.
Toko fisik atau ruko relatif mudah mereka identifikasi. Sebaliknya, pelaku usaha rumahan bisa menjalankan bisnis dari ruang keluarga tanpa memasang merek atau papan usaha.
Karena itu, petugas membutuhkan kemampuan komunikasi untuk menggali informasi dari setiap rumah tangga.
“Jika petugas tidak mampu menggali data dengan teknik komunikasi yang baik, mereka tidak akan mendapatkan data apa pun,” tegasnya.
Sejauh ini, petugas menemukan berbagai aktivitas bisnis yang warga jalankan dari rumah.
360 Ribu Data Awal Terus Bergerak, BPS Uji Ulang Hasil Sensus
Pada tahap awal, BPS Trenggalek mencatat sekitar 360 ribu responden dalam prelist. Namun, BPS tidak menjadikan angka tersebut sebagai batas akhir karena kondisi lapangan terus berubah.
Perpindahan penduduk, kematian, hingga kemunculan unit usaha baru membuat petugas harus mengutamakan kondisi faktual di lapangan.
“Realisasi pendataan kami memang sudah menyentuh 113 persen dari prelist, tetapi total pendataan sendiri terus bergerak dinamis,” kata Abu Amar.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa BPS tidak bisa hanya mengandalkan data administratif lama untuk memotret kondisi ekonomi masyarakat.
BPS juga tidak langsung mengakhiri proses setelah petugas menyelesaikan pencacahan lapangan. Pengawas akan memeriksa setiap data secara bertingkat sebelum BPS mengirimkannya ke BPS Pusat. Petugas juga melakukan uji kewajaran untuk menemukan anomali atau laporan yang tidak masuk akal.
Jika pengawas menemukan data yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan, BPS meminta petugas melakukan verifikasi ulang.
BPS menjadwalkan pengolahan data pada Oktober hingga November 2026. Dengan demikian, capaian 113 persen bukan tanda Sensus Ekonomi 2026 di Trenggalek telah selesai. Angka tersebut justru menunjukkan petugas telah melampaui daftar sasaran awal karena menemukan lebih banyak rumah tangga dan aktivitas usaha di lapangan.
Temuan tersebut sekaligus memberi gambaran bahwa dinamika ekonomi Trenggalek bergerak lebih cepat daripada data administratif yang menjadi pijakan awal sensus.(CIA)
Views: 3
















