TRENGGALEK, bioztv.id – Himpitan ekonomi dan tumpukan beban hidup terus mendorong kenaikan kasus gangguan kesehatan jiwa di Kabupaten Trenggalek. Sepanjang semester I 2026, sebanyak 1.359 warga mendatangi berbagai fasilitas kesehatan (faskes) untuk menjalani pelayanan kesehatan jiwa. Laki-laki mendominasi jumlah pasien dibandingkan perempuan.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek mencatat, dari 1.359 orang dengan gangguan jiwa, 755 pasien merupakan laki-laki. Sedangjan 604 lainnya pasien perempuan. Mayoritas pasien berada pada usia produktif.
“Warga yang mengakses pelayanan kesehatan jiwa sampai Juni 2026 ini mencapai 1.359 kunjungan. Mayoritas memang didominasi warga usia produktif,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, Andiek Muarifin.
Andiek menjelaskan bahwa gangguan kesehatan jiwa tidak langsung berkembang menjadi kondisi berat.
Dalam banyak kasus, gangguan mental justru berawal dari keluhan ringan yang sering diabaikan masyarakat.
Tekanan Ekonomi dan Konflik Keluarga Jadi Pemicu
Andiek menegaskan bahwa tekanan ekonomi menjadi faktor utama yang paling sering memicu gangguan kesehatan jiwa.
“Kondisi ekonomi itu sangat memengaruhi psikologis warga. Ketika kebutuhan keluarga terus melambung tinggi sementara penghasilan tidak mencukupi, situasi itu sangat rentan memicu masalah kejiwaan,” paparnya.
Selain persoalan ekonomi, konflik dalam keluarga juga kerap mengganggu kondisi psikologis seseorang.
Ia mencontohkan, banyak orang tua mengalami tekanan ketika tidak mampu memenuhi kebutuhan atau keinginan anak.
“Kadang anak minta dibelikan barang seperti teman-temannya, tapi orang tua tidak punya kemampuan untuk memenuhi. Situasi dilematis seperti itu sangat potensial menyulut tekanan psikologis,” jelasnya.
Laki-Laki Lebih Sering Memendam Masalah
Andiek menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan sebenarnya memiliki tingkat kerentanan gangguan jiwa yang relatif sama dari sisi medis. Namun, data pelayanan kesehatan menunjukkan lebih banyak laki-laki datang berobat.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan peran sosial laki-laki sebagai pencari nafkah sekaligus kebiasaan mereka menyimpan persoalan sendiri.
“Laki-laki kerap memilih memendam bebannya sendiri. Kebiasaan inilah yang membuat mereka lebih rentan mengalami gangguan kejiwaan,” bebernya.
Sebaliknya, perempuan cenderung lebih terbuka menceritakan persoalan kepada keluarga atau teman dekat sehingga tekanan psikologis lebih cepat tersalurkan.
Dinkes Ajak Keluarga Dampingi Pasien
Dinkes PPKB Trenggalek menegaskan bahwa, pasien gangguan jiwa tetap memiliki peluang besar untuk pulih dan hidup stabil. Mereka harus menjalani pengobatan secara rutin serta memperoleh dukungan keluarga.
“Faktor keluarga memegang peranan sangat vital. Kalau penderita rutin minum obat dan keluarga terus mendampinginya, kondisinya bisa tetap stabil,” tegas Andiek.
Andiek juga mengajak masyarakat menghapus stigma negatif terhadap gangguan kesehatan jiwa. Ia meminta warga segera memeriksakan diri ketika gejala awal muncul agar tenaga kesehatan dapat memberikan penanganan lebih cepat sebelum kondisinya berkembang menjadi gangguan jiwa yang lebih berat.(CIA)
Views: 4
















