Sewa Diobral Rp50 Ribu Per Bulan, Rusunawa Watulimo Trenggalek Tetap saja Kurang Laku

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id Hunian vertikal milik pemerintah di kawasan pesisir Kabupaten Trenggalek belum mampu menarik minat masyarakat secara luas. Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Watulimo hanya mengisi 17 unit dari total 51 unit yang tersedia.

Kondisi ini terlihat ironis. Pemerintah sudah menawarkan tarif sewa yang sangat terjangkau di tengah meningkatnya kebutuhan hunian murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Disperkimhub Trenggalek, Subyantoro Retno Pamuji, mengakui pihaknya menghadapi tantangan dalam memasarkan hunian tersebut meski sudah gencar melakukan promosi.

“Hingga saat ini, kami baru mengisi 17 unit. Padahal tarif sewa rusunawa ini jauh di bawah rata-rata harga kos,” ujar Subyantoro.

Banting Harga: Lantai Empat Hanya Rp50 Ribu per Bulan

Pemerintah menerapkan skema tarif progresif berdasarkan letak lantai. Harga sewa yang ditawarkan jauh lebih murah dibanding kos di sekitar Watulimo yang bisa mencapai Rp500 ribu per bulan.

  • Lantai 2: Rp100.000 / bulan
  • Lantai 3: Rp75.000 / bulan
  • Lantai 4: Rp50.000 / bulan

“Lantai satu tidak kami sewakan untuk hunian karena kami memproyeksikannya sebagai area komersial dan kantor pengelola,” imbuhnya.

Fasilitas Lengkap, Minat Tetap Rendah

Kementerian PUPR membangun rusunawa ini pada 2016 dengan fasilitas yang cukup lengkap. Setiap unit mengusung konsep rumah tipe 36 dengan:

  • Dua kamar tidur
  • Ruang tamu dan dapur
  • Kamar mandi dalam
  • Perabot lengkap (tempat tidur dan lemari)

Meski fasilitas tergolong memadai, warga belum banyak beralih ke hunian vertikal tersebut.

Karakter Nelayan Jadi Kendala

Subyantoro menilai rendahnya minat berkaitan dengan karakter pekerjaan warga Watulimo yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Mereka membutuhkan ruang terbuka untuk mengelola peralatan melaut.

“Nelayan membutuhkan ruang luas untuk aktivitas kerja mereka. Hal ini menjadi kendala utama untuk tinggal di rusunawa,” jelasnya.

Saat ini, penghuni yang bertahan mayoritas berasal dari keluarga muda dan pekerja pabrik di sekitar lokasi.

Bidik Penyewa Luar Daerah

Setelah sempat difungsikan sebagai Asrama Covid-19 pada 2020–2021, Pemkab Trenggalek kini kembali mengoptimalkan fungsi rusunawa sebagai hunian.

Karena promosi di wilayah sekitar seperti Prigi dan Tasikmadu belum maksimal, pemerintah mulai membidik penyewa dari luar daerah.

“Kami siap menawarkan hunian ini kepada warga di luar Kecamatan Watulimo, bahkan dari luar daerah jika diperlukan,” tegas Subyantoro.

Pemerintah juga memberikan opsi sewa fleksibel hingga lima tahun dengan sistem perpanjangan tahunan. Strategi ini diharapkan mampu menarik lebih banyak penyewa yang membutuhkan hunian layak dengan biaya sangat terjangkau.(CIA)

Views: 21