Bahasa Inggris Wajib Mulai Kelas 3 SD, Akademisi Trenggalek Soroti Kesiapan Guru

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Wacana mewajibkan mata pelajaran bahasa Inggris mulai kelas III sekolah dasar (SD) mendapat dukungan akademisi di Kabupaten Trenggalek. Kebijakan ini dinilai relevan dengan kebutuhan anak di era digital. Namun, pemerintah perlu memastikan kesiapan tenaga pendidik dan anggaran daerah sebelum menerapkannya.

Dosen STKIP PGRI Trenggalek, Haris Yudhianto, menilai pembelajaran bahasa Inggris sejak dini menjadi langkah strategis untuk membekali generasi muda agar mampu bersaing di tengah pesatnya perkembangan teknologi global.

Menurut Haris, bahasa Inggris kini bukan lagi sekadar mata pelajaran muatan lokal atau pilihan. Anak-anak membutuhkan kemampuan tersebut untuk menghadapi perkembangan zaman.

Interaksi anak dengan internet, platform YouTube, hingga media sosial juga membuat mereka semakin akrab dengan bahasa internasional tersebut.

“Bahasa Inggris itu sebenarnya tuntutan zaman. Era global ini kebutuhan anak-anak sekarang ini menjadi kebutuhan mendasar yang memang harus diperhatikan,” ujar Haris.

Kesiapan Guru dan Anggaran Pendidikan Jadi Sorotan

Meski mendukung kebijakan tersebut, Haris mengingatkan pemerintah agar memperhitungkan kesiapan tenaga pendidik sebelum menerapkannya di sekolah. Pemerintah tidak cukup hanya menerbitkan regulasi tanpa memastikan ketersediaan guru yang kompeten di setiap sekolah dasar.

Ia mempertanyakan kemampuan seluruh guru SD saat ini untuk mengajarkan bahasa Inggris secara terstruktur. Terlebih, sejumlah sekolah dasar di daerah masih menghadapi kekurangan tenaga pendidik.

“Kalau kemudian di sekolah-sekolah kita, kalau di sekolah dasar, apa kemudian sudah mampu semuanya untuk mengajarkan bahasa Inggris?” cetusnya.

Haris juga menyoroti kebutuhan anggaran untuk memenuhi ketersediaan guru bahasa Inggris. Pemerintah daerah perlu menyiapkan perencanaan dan skema rekrutmen yang matang agar sekolah dapat menjalankan kebijakan tersebut secara optimal.

Tanpa persiapan yang memadai, penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib berisiko menimbulkan kesenjangan. Sekolah di wilayah pelosok desa berpotensi menghadapi kendala lebih besar dalam memenuhi kebutuhan tenaga pengajar.

Pembelajaran Keterampilan Praktis

Selain kesiapan guru dan anggaran, Haris menekankan pentingnya metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar.

Menurutnya, guru perlu mengutamakan penguasaan keterampilan berbahasa daripada sekadar memberikan hafalan teori atau tata bahasa (grammar) yang kaku.

Guru dapat membiasakan siswa mendengarkan bahasa Inggris (listening), mendeskripsikan gambar, hingga mempraktikkan percakapan sederhana (speaking). Pembelajaran secara bertahap diharapkan mampu membangun kemampuan sekaligus kepercayaan diri siswa.

“Keterampilan ini akan sangat diperlukan. Bahasa asing itu harus memang diajarkan bukan hanya pengetahuan, tetapi diasah dari keterampilan,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan ketersediaan guru kompeten sekaligus menyusun kurikulum yang mengutamakan praktik. Kedua aspek tersebut menjadi kunci agar penerapan bahasa Inggris wajib mulai kelas III SD berjalan efektif dan menjangkau seluruh siswa secara merata.(CIA)

Views: 7