TRENGGALEK, bioztv.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah kerja Perum Perhutani KPH Kediri Selatan mencapai 47 kejadian hingga pertengahan Oktober 2026. Puluhan kejadian tersebut menghanguskan lahan seluas 128,55 hektare dengan estimasi kerugian mencapai Rp439,8 juta.
Kebakaran terutama melanda kawasan hutan yang ditumbuhi tanaman pinus di wilayah Trenggalek dan sekitarnya. Perhutani mencatat puluhan kejadian tersebut juga berdampak pada tanaman jati dan rimba campur.
Wakil Administratur/KS KPH Kediri Selatan, Budi Prihartono, menjelaskan bahwa 31 dari 47 kejadian kebakaran didominasi area tanaman pinus.
“Dari 47 kejadian itu, 31 kejadian di antaranya didominasi oleh tanaman pinus. Yang lainnya berupa tanaman jati dan rimba campur,” ujar Budi.
Perhutani menghitung nilai kerugian material berdasarkan rekapitulasi nilai tegakan dan ekosistem yang terdampak. Hasil perhitungan tersebut mencapai Rp439.800.000.
Serasah dan Puntung Rokok Jadi Pemicu
Perhutani bersama pihak terkait masih menelusuri penyebab kebakaran hutan tersebut. Petugas menduga aktivitas manusia memicu sebagian kejadian, tetapi belum menemukan bukti kuat yang memastikan adanya unsur kesengajaan.
Budi menjelaskan, sejumlah kebakaran bermula dari aktivitas warga membersihkan serasah di lahan milik atau hutan rakyat. Api kemudian merembet ke kawasan hutan negara yang dikelola Perhutani.
“Pada beberapa kejadian, kebakaran ini diawali dari aktivitas pembersihan serasah yang ada di hutan rakyat. Sebagian merembet ke kawasan hutan negara, kawasan yang dikelola Perhutani,” jelasnya.
Selain pembakaran serasah, puntung rokok yang masih menyala dan pembakaran limbah tanpa pengawasan juga berpotensi memicu kebakaran. Kondisi vegetasi kering membuat api mudah menjalar ke area sekitarnya.
“Memang ada dugaan bahwa ada kesengajaan, tetapi kami belum bisa menyampaikan bahwa itu ada karena di lapangan belum ada bukti-bukti nyata,” tegas Budi.
Medan Terjal dan Angin Kencang Hambat Pemadaman
Petugas menghadapi sejumlah kendala saat memadamkan api di kawasan hutan. Medan perbukitan yang terjal menyulitkan akses menuju titik kebakaran, sementara angin kencang mempercepat pergerakan api.
Tumpukan daun pinus dan semak belukar yang mengering juga memperbesar risiko penjalaran api. Kondisi tersebut menuntut petugas bergerak cepat untuk membatasi area kebakaran.
Budi mengatakan Perhutani memprioritaskan isolasi titik api agar kebakaran tidak meluas ke permukiman warga. Petugas juga membuat sekat bakar untuk membatasi pergerakan api pada kebakaran berskala kecil hingga sedang.
“Perhutani memprioritaskan isolasi dan pelokalisasian titik api agar kebakaran tidak menjalar ke permukiman warga. Untuk kebakaran berskala kecil hingga sedang, petugas dapat membuat sekat bakar guna membatasi pergerakan api,” kata Budi.
Petugas menggunakan peralatan manual berupa pemukul api atau gepyok. Mereka juga membuat sekat bakar (firebreak) dan menyiram area terdampak jika sumber air serta peralatan pemadam dapat menjangkau lokasi.
Perhutani Intensifkan Patroli dan Pantau Titik Panas
Untuk mencegah kebakaran berulang, Perhutani meningkatkan patroli di petak-petak hutan yang rawan terbakar. Petugas juga memantau titik panas (hotspot) melalui aplikasi Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Perhutani mengimbau masyarakat tidak membakar serasah atau limbah tanpa pengawasan. Warga juga perlu menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar dan tidak membuang puntung rokok yang masih menyala di sekitar kawasan hutan.
Masyarakat yang melihat asap atau titik api di kawasan hutan diminta segera melaporkannya kepada petugas. Laporan sejak dini dapat membantu mempercepat penanganan sebelum api meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar.(CIA)
Views: 6

















