TRENGGALEK, bioztv.id – Terapi cuci darah atau hemodialisis menjadi tumpuan penderita gagal ginjal berat. Namun, masyarakat sebenarnya dapat mencegah dan memperlambat kerusakan ginjal dengan mengenali faktor risikonya sejak dini.
Beragam faktor dapat merusak ginjal, mulai dari penyakit bawaan, penggunaan obat sembarangan, hingga pola konsumsi yang salah. Masyarakat perlu melakukan pencegahan sejak dini agar kerusakan tidak berkembang menjadi lebih parah.
Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni, mengingatkan bahaya zat nefrotoksik yang dapat merusak ginjal. Konsumsi obat atau makanan tertentu secara berlebihan dapat memperberat kerja organ tersebut.
Setiap bahan yang masuk ke tubuh memiliki batas aman. Konsumsi tanpa kontrol dapat menurunkan kemampuan ginjal menyaring darah secara bertahap.
“Kalau berlebihan terkandung dalam tubuh, itu akan memperberat fungsi ginjal untuk mencuci darah,” terang Saeroni.
Beda Gangguan Ginjal Akut dan Kronis
Gangguan ginjal terbagi menjadi dua kategori utama, yakni akut dan kronis. Pasien dengan gangguan ginjal akut masih memiliki peluang besar untuk pulih total jika mendapat penanganan cepat.
Sebaliknya, penderita gangguan ginjal kronis umumnya harus menjalani hemodialisis dalam jangka panjang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol sebagai pemicu utama kondisi kronis tersebut.
“Kalau kondisi akut baru terkena, kemungkinan bisa tidak tergantung dengan mesin. Namun kalau kronis, biasanya terus tergantung,” lanjutnya.
Pentingnya Deteksi Dini dan Pola Hidup Sehat
Hipertensi sering muncul tanpa gejala klinis yang jelas. Padahal, tekanan darah tinggi terus merusak pembuluh darah ginjal. Faktor keturunan juga dapat berperan secara tidak langsung melalui riwayat hipertensi dalam keluarga.
“Karena itu, masyarakat perlu mengontrol tekanan darah secara rutin,” Ungkap Saeroni.
Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat, terutama penderita diabetes dan hipertensi, rutin melakukan tes darah dan urine. Pemeriksaan fungsi ginjal sejak dini membantu mencegah kerusakan yang lebih parah.
Selain itu, masyarakat perlu membatasi konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari sesuai rekomendasi WHO.
“Kebiasaan mengobati diri sendiri tanpa petunjuk resmi dari dokter juga bisa berbahaya,” jelas Saeroni..
Kapasitas Layanan dan Harapan Kesembuhan
RSUD dr. Soedomo Trenggalek saat ini menyiagakan 31 unit mesin hemodialisis untuk melayani warga lokal. Daftar tunggu pasien mencapai 145 orang, tetapi rumah sakit juga mencatat kabar baik mengenai pemulihan pasien.
Sebanyak 11 pasien berhasil lepas dari ketergantungan mesin cuci darah setelah fungsi ginjal mereka membaik.
“Penanganan medis yang tepat dapat memberikan peluang pemulihan lebih baik, deteksi dini sangat dianjurkan,” tegas Saeroni.
Masyarakat perlu menjaga pola makan, mengontrol penyakit penyerta, dan rutin memeriksakan diri. Langkah tersebut menjadi upaya utama untuk menjaga kesehatan ginjal.(CIA)
Views: 47

















