TRENGGALEK, bioztv.id – Produk unggulan Trenggalek telah menjangkau pasar luar negeri. Namun, mayoritas pelaku usaha lokal belum mampu melakukan ekspor secara mandiri. Produk seperti fillet dori, batik tulis, kuliner UMKM, hingga drum kabel telah masuk pasar internasional.
Sebagian produk bahkan rutin menyasar China. Namun, pelaku usaha masih mengandalkan eksportir atau pihak ketiga untuk mengirim produknya.
Kepala Bidang Promosi, Pengembangan Ekspor, dan Perlindungan Konsumen Diskomidag Trenggalek, Nurun Nadjmi, mengatakan aktivitas ekspor langsung masih terbatas.
Data Diskomidag mencatat baru empat pelaku usaha utama yang menjalankan ekspor langsung dari Trenggalek.
“Sejauh ini baru empat pelaku usaha utama yang tercatat. Untuk pelaku usaha lain mungkin ada, tetapi mereka belum menyampaikan laporan resmi kepada kami,” terang Nurun Nadjmi.
Kondisi tersebut menunjukkan pelaku usaha Trenggalek masih menghadapi tantangan untuk mengelola ekspor secara mandiri.
Produk Trenggalek Rambah China hingga Kapal Pesiar
Pelaku usaha Trenggalek telah menjangkau sejumlah negara melalui jalur tidak langsung. Sektor perikanan Watulimo dan Kedunglurah, misalnya, memasok fillet dori ke pasar mancanegara. Batik Tipuk dan Batik Rahayu juga menjangkau pasar China melalui eksportir perantara.
“Ya memang Ekspornya masih menggunakan jasa eksportir perantara, belum ekspor sendiri,” jelas Nurun.
Produk kuliner olahan UMKM Trenggalek juga memenuhi standar pasokan untuk kebutuhan konsumsi kapal pesiar internasional. Namun, pelaku usaha belum mengirim produk-produk tersebut dalam skala besar dan secara konsisten.
Pihak ketiga masih membantu pelaku usaha menghubungkan produk lokal dengan jaringan distribusi internasional.
“Pasar internasional terbuka lebar, tetapi kesiapan pelaku usaha untuk ekspor mandiri perlu ditingkatkan,” tegas Nurun.
Baru Empat Pelaku Usaha Ekspor Langsung
Pada semester I 2026, Diskomidag Trenggalek mencatat empat pelaku usaha utama yang menjalankan ekspor langsung.
- PT Admira, Desa Ngepeh, Kecamatan Tugu, mengekspor produk kayu olahan seperti plywood atau triplek.
- PT Inhutani, Kelurahan Rejowinangun, Kecamatan Trenggalek, mengirim komoditas gondorukem.
- Produsen drum kabel di Kecamatan Karangan mengirim gulungan kabel ke pasar China.
- Pengolahan porang mengirim komoditas olahan porang ke China.
Khusus komoditas porang, perusahaan menghentikan sementara produksi dan pengiriman karena stok bahan baku petani menipis.
“Pabrik porang memproduksi barang terakhir pada April lalu. Setelah periode Januari sampai April itu, pasokan bahan bakunya habis,” ungkap Nurun.
Diskomidag memproyeksikan pengolahan porang kembali berjalan pada November atau Desember mendatang.
Kondisi tersebut menunjukkan pelaku usaha juga perlu menjaga ketersediaan bahan baku untuk mempertahankan kegiatan ekspor.
“Kondisi ini membuktikan stabilitas bahan baku sangat krusial,” tambah Nurun.
Produksi Belum Kontinu, Izin Ekspor Jadi Tantangan
Nurun mengatakan kapasitas produksi menjadi salah satu kendala utama ekspor mandiri. Produksi yang belum kontinu membuat pengusaha lokal kesulitan memenuhi pesanan dalam volume besar secara konsisten.
“Untuk memenuhi permintaan kuota besar, pelaku usaha kita belum sanggup berdiri sendiri. Mereka harus berkolaborasi dengan pengusaha dari kabupaten lain,” jelasnya.
Industri drum kabel di Kecamatan Karangan menjadi salah satu contohnya. Pengrajin Trenggalek menggandeng produsen dari Kabupaten Mojokerto dan daerah lain untuk memenuhi kuota ekspor ke China.
“Pengrajin harus menggandeng mitra dari daerah lain untuk mencukupi kuota ekspor,” kata Nurun.
Selain kapasitas produksi, pelaku usaha juga menghadapi persyaratan perizinan yang beragam. Pelaku usaha harus melengkapi legalitas sesuai jenis produk yang mereka ekspor.
“Persyaratan perizinan yang kompleks juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha lokal,” terang Nurun.
Produk makanan olahan wajib memenuhi standar BPOM. Sementara itu, produk pertanian dan perikanan harus menjalani pengujian mutu serta sertifikasi karantina.
“Ya memang banyak jenis perijinan yang harus dilengkapi, dan ijinnya harus lengkap,” lanjut Nurun.
Nilai Ekspor Nonmigas Capai Rp142,71 Miliar
Keterbatasan ekspor mandiri tidak menghilangkan potensi perdagangan luar negeri Trenggalek. Data sepanjang 2025 mencatat nilai ekspor nonmigas Trenggalek mencapai Rp142,71 miliar. Enam kelompok komoditas menyumbang nilai tersebut, yakni:
- Fillet patin, trimmingan, kulit, dan gelembung ikan: Rp60,82 miliar.
- Plywood atau triplek: Rp36,95 miliar.
- Gum resin, rosin ester, dan terpenin: Rp27,04 miliar.
- Drum atau gulungan kabel: Rp15,01 miliar.
- Minyak atsiri: Rp2,12 miliar.
- Batu akik: Rp759 juta.
Data tersebut menunjukkan nilai perdagangan produk Trenggalek di pasar global cukup besar. Pemkab Trenggalek kini mendorong pelaku usaha meningkatkan legalitas, menjaga pasokan bahan baku, dan memperbesar kapasitas produksi.
Langkah tersebut diharapkan membantu lebih banyak pelaku usaha mengelola ekspor tanpa bergantung pada pihak ketiga.
“Pemerintah daerah terus mendampingi pelaku usaha agar mampu memenuhi legalitas dan kapasitas produksi secara mandiri,” pungkas Nurun.(CIA)
Views: 5
















