Kekerasan Psikis Dominasi Kasus KDRT di Trenggalek, Persoalan Ekonomi Jadi Pemicu Utama

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Kekerasan terhadap perempuan ternyata tidak selalu meninggalkan luka lebam. Di Kabupaten Trenggalek, Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) justru mencatat kekerasan psikis sebagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang paling banyak menimpa korban sepanjang semester pertama 2026.

UPT PPA mengungkap temuan tersebut setelah mendampingi lima kasus kekerasan terhadap perempuan. Hampir seluruh kasus itu berakar dari lingkaran KDRT.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa konflik rumah tangga kerap menghancurkan kondisi mental korban tanpa meninggalkan bekas luka fisik. Intimidasi verbal, tekanan batin yang berkepanjangan, hingga konflik berkepanjangan kini lebih sering menghantui para istri di dalam rumah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala UPT PPA Kabupaten Trenggalek, Indra Prasetyo Budiatnanto, mengatakan timnya telah memberikan pendampingan psikologis dan bantuan hukum kepada seluruh korban.

“Kami menangani lima kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun berjalan ini, dan mayoritas laporan yang masuk merupakan kasus KDRT,” ungkap Indra Prasetyo Budiatnanto.

KDRT Tak Pandang Bulu, Mengintai Semua Lapisan Masyarakat

Indra menegaskan bahwa anggapan masyarakat yang mengaitkan KDRT hanya dengan keluarga kurang mampu tidak sepenuhnya benar.

Data pendampingan UPT PPA menunjukkan pelaku maupun korban berasal dari berbagai latar belakang sosial. Korban berasal dari keluarga berpenghasilan rendah hingga kalangan ekonomi menengah ke atas.

Fakta tersebut membuktikan bahwa status sosial maupun kondisi ekonomi tidak menjamin sebuah keluarga terbebas dari kekerasan.

“Karakteristik korbannya sangat beragam. Ada yang berasal dari keluarga berada atau kalangan menengah ke atas, tetapi ada juga yang berasal dari keluarga kurang mampu,” ujar Indra.

Persoalan Ekonomi Masih Memicu Konflik Rumah Tangga

Meski latar belakang korban beragam, Indra mengakui persoalan ekonomi masih menjadi pemicu utama pertengkaran dalam rumah tangga.

Tekanan kebutuhan hidup, ketidakpastian penghasilan, hingga beban ekonomi keluarga sering memicu konflik yang kemudian berkembang menjadi tindakan kekerasan.

“Kalau kami telusuri akar persoalannya, salah satu penyebab utama memang masih berkaitan dengan masalah ekonomi,” jelasnya.

Namun, UPT PPA menilai persoalan ekonomi bukan satu-satunya faktor. Pola komunikasi yang buruk dan ego masing-masing pasangan juga memperbesar potensi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

Kekerasan Psikis Lebih Banyak Terjadi

Berbeda dengan anggapan masyarakat yang identik mengaitkan KDRT dengan kekerasan fisik, UPT PPA justru lebih banyak menangani korban yang mengalami kekerasan psikis.

Pelaku melancarkan berbagai bentuk kekerasan, mulai dari ancaman verbal, hinaan yang merendahkan martabat, tekanan emosional, hingga perlakuan dingin yang menghilangkan rasa aman korban di rumahnya sendiri. Indra mengatakan sebagian besar kasus bermula dari pertengkaran yang terus berulang hingga berubah menjadi serangan psikologis.

“Sebagian besar kasus berawal dari cekcok rumah tangga yang terus berulang. Akibatnya, bentuk kekerasan yang paling banyak kami tangani saat ini adalah kekerasan psikis,” beber Indra.(CIA)

Views: 25