Catur Trenggalek Berprestasi, Tapi Anggaran Pembinaan Hanya Rp15 Juta Setahun

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idCabang olahraga catur masih menjadi salah satu andalan Kabupaten Trenggalek untuk meraih prestasi di tingkat Jawa Timur. Namun, prestasi para atlet belum sebanding dengan dukungan anggaran pembinaan.

Pengurus Kabupaten Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Trenggalek kini menerima alokasi sekitar Rp15 juta per tahun dari KONI. Padahal, catur masuk daftar cabang olahraga unggulan dan Percasi membina lebih dari 100 atlet.

Ketua Percasi Kabupaten Trenggalek, Muhamad Ervan Hamami, menyayangkan minimnya anggaran tersebut. Menurutnya, capaian atlet seharusnya mendapat dukungan pembinaan yang lebih memadai.

“KONI sebenarnya menempatkan catur sebagai salah satu cabor andalan karena prestasi kita memang luar biasa,” ujar Ervan.

Catur Konsisten Sumbang Medali Emas Trenggalek

Ervan menegaskan atlet catur Trenggalek terus menunjukkan prestasi di tingkat regional. Pada Porprov Jatim edisi sebelumnya, atlet putri Trenggalek berhasil meraih medali emas nomor perorangan.

“Tahun kemarin atlet putri kita berhasil menyumbang medali emas untuk nomor perorangan,” kenangnya.

Prestasi tersebut melanjutkan catatan positif pecatur Trenggalek dalam berbagai kejuaraan sebelumnya.

Anggaran Pembinaan Kini Hanya Rp15 Juta

Di tengah konsistensi prestasi, Percasi harus menghadapi keterbatasan anggaran.

Ervan mengatakan KONI Trenggalek kini memberikan hibah sekitar Rp15 juta setiap tahun kepada Percasi.

“Kami hanya menerima Rp15 juta per tahun, padahal catur ini statusnya cabor unggulan,” keluhnya.

Menurut Ervan, dana tersebut sangat terbatas untuk menjalankan program pembinaan bagi lebih dari 100 atlet.

Ia berharap KONI kembali meningkatkan alokasi dana seperti sebelumnya.

“Harapan kami anggaran bisa kembali seperti dulu, minimal di atas Rp30 juta per tahun,” harapnya.

Minim Anggaran, Atlet Rogoh Kocek Sendiri

Keterbatasan dana membuat Percasi mengandalkan klub-klub catur lokal sebagai pusat latihan atlet.

Percasi tetap memantau perkembangan atlet dan memberikan pendampingan teknis bersama pelatih.

“Kami memusatkan latihan di klub masing-masing, tetapi tetap dalam pantauan Percasi dan KONI,” kata Ervan.

Percasi juga mendorong atlet mengikuti kejuaraan di luar daerah untuk menambah pengalaman dan mental bertanding.

Namun, keterbatasan anggaran membuat sebagian atlet harus membiayai sendiri kebutuhan mereka saat mengikuti pertandingan.

“Karena dana kita sangat terbatas, anak-anak terpaksa merogoh kocek secara mandiri untuk berangkat bertanding,” tambahnya.

Percasi Bina Lebih dari 100 Atlet, Avita Jadi Andalan

Di tengah keterbatasan dana, Percasi tetap menjalankan pembinaan terhadap lebih dari 100 pecatur aktif di Trenggalek.

“Kalau kita total seluruh pemain aktif, jumlahnya sudah lebih dari 100 orang,” terang Ervan.

Percasi juga menaruh harapan pada talenta muda seperti Avita. Siswi MAN 1 Trenggalek asal Kecamatan Parakan itu menjadi salah satu andalan Percasi di nomor perorangan putri.

“Avita menjadi tumpuan utama kita untuk mengamankan medali di kelompok putri,” tuturnya.

Kondisi ini memperlihatkan kesenjangan antara prestasi dan dukungan pembinaan olahraga di Trenggalek. Catur mampu menyumbang emas di tingkat provinsi, tetapi Percasi hanya mengelola anggaran sekitar Rp15 juta per tahun.

Padahal, pembinaan atlet membutuhkan biaya untuk latihan, pelatih, kompetisi, transportasi, hingga pengembangan atlet muda. Karena itu, pemerintah daerah dan KONI perlu menghitung kembali kebutuhan cabor unggulan agar target prestasi tidak berjalan dengan dukungan anggaran yang minim.(CIA)

Views: 4