Karnaval HUT ke-81 RI di Pule: SDN 2 Puyung Pilih Pungut Sampah, Ubah Rute Pawai Jadi Ruang Edukasi

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioz.tv.idDi tengah kemeriahan Pawai Seni Budaya HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Pule, puluhan siswa SD Negeri 2 Puyung (SDAYU) justru fokus memungut sampah di sepanjang rute.

Mereka tergabung dalam barisan Pasukan Semut SDA YU. Para siswa tidak hanya membawa poster kampanye kebersihan, tetapi juga memungut sampah yang mereka temukan, mengumpulkannya, kemudian memilahnya berdasarkan jenis.

Aksi tersebut membuat rute pawai berubah menjadi ruang belajar terbuka. Para siswa mempraktikkan langsung kepedulian terhadap lingkungan di tengah kegiatan perayaan kemerdekaan.

Kepala SD Negeri 2 Puyung, Arif Wibowo, mengatakan sekolah sengaja memasukkan edukasi lingkungan ke dalam konsep pawai.

“Kami merancang pawai ini bukan sebatas ajang untuk tampil memukau, melainkan juga kesempatan belajar yang nyata bagi anak-anak,” kata Arif.

Menurut Arif, pengalaman langsung dapat memperkuat pembentukan karakter siswa. Mereka tidak hanya mempelajari kebersihan melalui teori di dalam kelas, tetapi juga menghadapi persoalan sampah secara langsung di lingkungan sekitar.

“Saat anak-anak mengalami sendiri proses melihat, mengambil, hingga memilah sampah, pengalaman tersebut akan membekas lebih kuat dalam memori mereka,” ujarnya.

Bukan Sekadar Ikut Pawai, SDAYU Bawa Aksi Nyata

SDAYU membagi kontingen Pawai Seni Budaya HUT ke-81 Kecamatan Pule, Rabu (26/8/2026), menjadi dua rombongan dengan misi berbeda.

Rombongan pertama menampilkan Kraton Sdayu Bhuwana. Barisan tersebut menghadirkan maskot, pengawal, dayang, hingga Ratu Sdayu Bhuwana sebagai simbol kreativitas dan identitas sekolah.

Sementara itu, Pasukan Semut bergerak di belakang rombongan utama.

“Barisan Pasukan Semut bergerak mengawal dari posisi belakang rombongan utama,” jelas Arif.

Para siswa menjalankan tugas sederhana tetapi berdampak langsung. Mereka mengamati kondisi jalan, memungut sampah yang tercecer, lalu memilahnya menjadi sampah organik dan anorganik.

“Kami tidak langsung membuang sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Sekolah akan mengelola dan memanfaatkannya kembali,” imbuh Arif.

Melalui aksi tersebut, SDAYU ingin menunjukkan bahwa kemeriahan pawai tidak harus meninggalkan persoalan baru berupa sampah.

Jalanan Jadi Kelas Terbuka

Pasukan Semut juga menjadi cara SDAYU membawa pembelajaran lingkungan keluar dari ruang kelas.

Arif menilai siswa perlu melihat persoalan lingkungan secara langsung agar rasa tanggung jawab tumbuh melalui pengalaman, bukan sekadar teori.

Dari kegiatan memilah sampah, siswa belajar bahwa tidak semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir. Sebagian masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi jika mereka mengelolanya dengan benar.

Pembelajaran itu berlangsung secara alami ketika para siswa menyusuri rute pawai.

Arif berharap kebiasaan tersebut tidak berhenti setelah acara selesai. Ia ingin siswa membawa kepedulian terhadap kebersihan ke kehidupan sehari-hari.

Camat Pule Apresiasi Pasukan Semut

Camat Pule, Budi Supriyanto, mengapresiasi aksi Pasukan Semut SDAYU. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan karakter peduli lingkungan sejak usia dini.

“Kami sangat mengapresiasi aksi Pasukan Semut SDAYU. Ini merupakan wujud konkret pendidikan kepedulian lingkungan yang tertanam sejak dini,” kata Budi.

Ia menilai aksi tersebut membuktikan bahwa pendidikan lingkungan dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana.

“Aksi adik-adik SDAYU ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dalam menggalakkan pengelolaan sampah, termasuk menyukseskan program Sangu Sampah gagasan Bupati Trenggalek,” tegas Budi.

Dari Sampah, Siswa Belajar Tanggung Jawab

Bagi keluarga besar SDAYU, Pasukan Semut bukan sekadar bagian dari kontingen pawai. Sekolah menjadikan aksi tersebut sebagai sarana untuk membangun kepedulian, kepekaan sosial, dan kebiasaan memilah sampah sejak dini.

Arif optimistis pengalaman siswa selama mengikuti pawai dapat membentuk kebiasaan baru yang mereka bawa ke luar lingkungan sekolah.

“Langkah kecil selalu memiliki kekuatan untuk mengawali perubahan besar,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan pesan sederhana yang menjadi semangat Pasukan Semut selama kegiatan.

“Semua bisa kita mulai dari satu sampah yang kita pungut, dan satu sampah yang kita pilah,” pungkas Arif.

Pesan itu menjadi pembeda SDAYU di tengah kemeriahan Pawai Seni Budaya Kecamatan Pule.

Ketika peserta lain menampilkan seni dan budaya untuk memeriahkan HUT RI, siswa SD Negeri 2 Puyung menghadirkan pesan lain, perayaan kemerdekaan juga harus memberi ruang bagi kepedulian terhadap lingkungan.

Mereka menjadikan jalanan bukan hanya sebagai panggung pawai, tetapi juga sebagai ruang belajar untuk mempraktikkan tanggung jawab menjaga lingkungan.(CIA)

Views: 2