TRENGGALEK, bioztv.id — Car Free Day (CFD) Kabupaten Trenggalek kini tidak lagi identik dengan kegiatan yang sepi. Gelaran ini justru berkembang menjadi penggerak ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Dalam setiap pelaksanaannya, transaksi pedagang mampu mencapai ratusan juta rupiah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa CFD mulai memberi dampak nyata terhadap perputaran ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Trenggalek, Saniran, mengatakan omzet pedagang dalam satu sesi CFD rata-rata mencapai Rp130 juta hingga Rp150 juta.
“Inisiasi awal CFD ini datang dari saran dan masukan Bu Novita. Perkembangannya saat ini sangat membanggakan. Rata-rata omzet CFD mampu menyentuh Rp130 juta hingga Rp150 juta per sesi,” ujar Saniran saat membuka sosialisasi standardisasi UMKM di Hotel Bukit Jaas, Minggu (16/8/2026).
Saniran mencatat rekor omzet tertinggi saat panitia memindahkan lokasi CFD ke kawasan Pasar Pon bersamaan dengan peringatan Hari Koperasi.
“Saat berkolaborasi dengan event Hari Koperasi, omzet pedagang melesat hingga menembus Rp157 juta,” paparnya.
Geliat perdagangan itu juga terlihat dari capaian salah seorang pedagang. Dalam tiga jam berjualan, pedagang tersebut mampu meraup omzet hingga Rp5,5 juta.
“Pedagang tersebut membuka lapak mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB dan langsung mengantongi jutaan rupiah,” jelas Saniran.
Sempat Mati Suri di Alun-Alun, CFD Kini Kembali Menggeliat
Kondisi CFD saat ini berbeda jauh dengan pelaksanaan sebelumnya. Pemerintah daerah pernah menggelar kegiatan serupa di kawasan Alun-Alun Trenggalek.
Namun, aktivitas tersebut perlahan meredup karena jumlah pengunjung dan pedagang terus menurun.
Kondisi itu sempat membuat sejumlah pihak pesimistis ketika pemerintah daerah kembali menghidupkan CFD.
Saniran menilai keberhasilan CFD saat ini tidak lepas dari dorongan Novita Hardini. Politisi tersebut konsisten mengawal pengembangan CFD sejak awal.
Di sisi lain, Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini mengaku terus memantau perkembangan CFD dari Jakarta.
“Raga saya memang bertugas di Jakarta, tetapi jiwa dan perhatian saya tetap tertuju ke Trenggalek,” kata Novita.
Ia juga rutin berdiskusi dengan jajaran pemerintah daerah untuk menyempurnakan konsep CFD agar kegiatan tersebut memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat.
“Saya tetap menjalin komunikasi intensif dan memberikan saran kepada jajaran Pemkab Trenggalek, khususnya terkait pengembangan CFD ini,” tegasnya.
Novita Dorong Kebijakan yang Memberi Manfaat Nyata
Novita mengungkapkan bahwa pemerintah daerah sempat menghadapi kekhawatiran saat mengembangkan kembali CFD. Sejumlah birokrat ketika itu memperhitungkan berbagai risiko kegagalan.
Namun, Novita meminta pemerintah daerah tetap berani mengambil langkah.
“Teman-teman birokrasi waktu itu masih pesimis dan menghitung banyak risiko. Namun saya terus mendorong mereka untuk berani mengeksekusi,” kenang Novita.
Menurutnya, pejabat pemerintah memiliki waktu terbatas untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, setiap kebijakan harus memberikan dampak nyata bagi warga.
“Jika kita tidak mampu memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, maka keberadaan kita tidak ada artinya,” tegas Novita.
Kini, keberanian tersebut mulai menunjukkan hasil. CFD tidak hanya menjadi ruang warga berolahraga, tetapi juga menjadi pusat transaksi UMKM Trenggalek.
“Rupanya kekhawatiran masa lalu terbukti salah. Car Free Day kini menjadi gerakan ekonomi yang membanggakan bagi kawan-kawan UMKM,” tambahnya.
Pindah ke Jalan Panglima Sudirman, Pedagang Mangkir Terancam Dicoret
Pemerintah daerah kini memusatkan kegiatan CFD di sepanjang Jalan Panglima Sudirman. Pemkab juga menyiapkan kawasan lingkar Pasar Pon sebagai lokasi alternatif.
Pemindahan lokasi tersebut berhasil menarik kembali banyak pengunjung. Pada saat yang sama, Dinas Koperasi dan Perdagangan memperketat aturan bagi pedagang.
Pengelola akan mencoret pedagang yang membiarkan lapaknya kosong selama dua kali berturut-turut tanpa izin. Pengelola kemudian memberikan slot tersebut kepada pendaftar lain.
Kebijakan itu muncul karena jumlah UMKM yang ingin berjualan di CFD terus bertambah. Ratusan pedagang bahkan masuk daftar tunggu karena seluruh lapak resmi sudah terisi.
Pemerintah meminta pedagang menjaga konsistensi kehadiran. Lapak kosong dapat mengurangi daya tarik kawasan CFD dan membuat pengunjung enggan datang.
Jika jumlah pengunjung turun, pedagang juga akan merasakan dampaknya.
Perkembangan CFD Trenggalek kini menunjukkan perubahan yang signifikan. Dari kegiatan yang sempat mengalami masa surut, CFD berkembang menjadi salah satu ruang ekonomi kerakyatan yang potensial bagi UMKM Trenggalek.(CIA)
Views: 11
















