TRENGGALEK, bioztv.id – Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai berdampak hingga ke bengkel-bengkel motor di Trenggalek. Kondisi ekonomi global tersebut tidak hanya mendorong kenaikan harga barang impor, tetapi juga memicu kenaikan harga oli berbagai merek dan ban luar kendaraan yang beredar di pasar domestik.
Akibatnya, pemilik kendaraan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk melakukan perawatan rutin dalam beberapa bulan terakhir.
Pemilik Bengkel Rizki Jaya Motor di Desa Pakis, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Ichsan Rizky, mengatakan kenaikan harga mulai terjadi sejak akhir April hingga Mei 2026. Menurutnya, hampir seluruh produsen oli menaikkan harga jual produknya, termasuk merek lokal yang memproduksi oli di dalam negeri.
“Kenaikan harga ini sudah berjalan sejak akhir April sampai sekarang. Kalau kita kalkulasi, nilainya bervariasi mulai dari Rp5 ribu sampai sekitar Rp20 ribu untuk setiap botol kemasan oli,” ujar Ichsan Rizky saat ditemui di bengkelnya.
Selain oli, produsen ban luar kendaraan juga menaikkan harga jual produknya sejak awal Mei lalu.
“Kalau untuk ban dalam harganya masih relatif normal. Tapi untuk ban luar, harganya naik sekitar Rp20 ribu per unit,” katanya.
Hampir Semua Merek Oli Naik Harga
Ichsan menjelaskan, kenaikan harga menyentuh hampir seluruh jenis dan merek oli yang beredar di pasaran. Bahkan produk yang selama ini dikenal paling terjangkau juga ikut mengalami kenaikan harga.
“Semua merek tanpa terkecuali ikut naik. Oli yang dulu harganya paling murah sekarang juga naik. Selama dua bulan terakhir, rata-rata kenaikannya mencapai Rp20 ribu,” jelasnya.
Ia menilai penguatan dolar terhadap rupiah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga tersebut. Kondisi itu meningkatkan biaya produksi sekaligus biaya distribusi berbagai produk otomotif hingga ke daerah.
“Faktor utamanya karena dolar menguat dan rupiah melemah. Kondisi itu langsung mendorong kenaikan harga barang-barang otomotif di tingkat retail,” ungkapnya.
Harga Sparepart Juga Ikut Naik
Tidak hanya oli dan ban luar, sejumlah suku cadang kendaraan juga mulai mengalami kenaikan harga meski tidak setinggi produk pelumas.
Ichsan mencontohkan beberapa komponen ringan yang sebelumnya dijual sekitar Rp45 ribu kini sudah berada di kisaran Rp55 ribu hingga Rp60 ribu.
“Onderdil juga ikut naik. Memang tidak semua komponen mengalami kenaikan drastis, tetapi hampir semua barang menyesuaikan harga,” katanya.
Situasi pasar semakin dinamis setelah salah satu produsen onderdil ternama menghentikan operasional pabriknya. Kondisi tersebut mendorong sebagian konsumen beralih ke produk imitasi atau KW. Namun tingginya permintaan justru membuat harga produk alternatif itu ikut naik.
Bengkel Kurangi Stok untuk Hindari Risiko
Fluktuasi harga yang terus terjadi membuat pelaku usaha bengkel lebih berhati-hati dalam mengelola modal dan persediaan barang. Ichsan mengaku kini mengurangi pembelian stok dalam jumlah besar.
Ia khawatir perubahan harga yang terlalu cepat dapat menekan margin keuntungan saat harus melakukan pengadaan ulang barang.
“Risikonya terlalu besar kalau kita menyimpan stok terlalu banyak ketika harga belum stabil. Hari ini kita beli dengan harga tertentu, beberapa hari kemudian bisa saja harga sudah berubah saat kita harus restock,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Ichsan rutin berkomunikasi dengan para sales dari distributor resmi guna memantau perkembangan harga sebelum melakukan pemesanan barang.
Khawatir Daya Beli Masyarakat Menurun
Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan otomotif, Ichsan terus memberikan penjelasan kepada pelanggan mengenai penyebab perubahan harga yang terjadi di bengkelnya.
Ia berharap kondisi ekonomi nasional segera membaik sehingga nilai tukar rupiah kembali menguat dan harga berbagai kebutuhan bisa lebih stabil.
Menurutnya, stabilitas harga sangat penting karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah yang sangat bergantung pada kendaraan bermotor untuk menunjang aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Harapan saya, rupiah bisa segera menguat dan harga-harga kembali normal. Kalau harga kebutuhan ini terus naik, tentu beban masyarakat kecil akan semakin berat,” pungkas Ichsan.(CIA)
Views: 3

















