Santri di Trenggalek Nobar Film “Pesta Babi”, Gus Zaki: Kritik Sosial Bukan Berarti Melawan Negara

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id Santri Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, memadati halaman pondok untuk mengikuti nonton bareng (nobar) film dokumenter investigatif bertajuk “Pesta Babi, Senin (11/5/2026) malam.

Sutradara Dandhy Dwi Laksono menggarap film tersebut bersama Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace. Film ini menyoroti perlawanan masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, terhadap dampak ekspansi industri dan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Film Soroti Hilangnya Hutan Adat dan Sumber Pangan

Selama 95 menit, para santri menyimak narasi tentang hilangnya tanah leluhur dan hutan adat yang berubah menjadi kawasan proyek industri. Film tersebut juga menggambarkan perubahan pola hidup masyarakat adat akibat rusaknya ekosistem tradisional yang selama ini menjadi sumber pangan utama mereka.

Pengasuh Ponpes Al-Falah, KH.Muhammad Izuddin Zakki (Gus Zaki), menjelaskan bahwa pihak pondok sengaja menggelar pemutaran film untuk membuka ruang diskusi dan membangun kepedulian santri terhadap isu kemanusiaan.

Menurutnya, pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap persoalan di Papua agar keadilan benar-benar dirasakan seluruh masyarakat.

“Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus pada persoalan di Papua. Sebagai warga negara, kami tergerak mendukung agar pemerintah bersikap adil kepada seluruh rakyat tanpa terkecuali,” ujar Gus Zaki.

Gus Zaki Bantah Tuduhan Makar

Film Pesta Babi belakangan memicu polemik nasional. Aparat keamanan di sejumlah daerah seperti Ternate dan Mataram sempat membubarkan diskusi maupun pemutaran film tersebut karena dianggap mengangkat isu sensitif.

Meski demikian, Gus Zaki menolak anggapan bahwa menonton film kritik sosial identik dengan tindakan makar atau upaya melemahkan kepercayaan publik terhadap aparat negara.

Ia menegaskan bahwa para santri tetap memegang teguh komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kami tetap setia kepada NKRI dan mendukung penuh TNI maupun Polri. Menonton film investigasi seperti ini bukan berarti kami melawan negara,” tegasnya.

Tanamkan Kepedulian Sosial dan Lingkungan

Melalui kegiatan ini, Gus Zaki ingin menanamkan nilai kemanusiaan dan kepedulian lingkungan kepada para santri. Ia menilai seorang santri tidak hanya bertugas menjaga hubungan dengan Tuhan, tetapi juga harus menjaga hubungan dengan sesama manusia dan alam.

“Kami menanamkan tiga hal utama: menjaga hubungan dengan Allah (hablum minallah), menjaga hubungan sesama manusia (hablum minannas), dan menjaga hubungan dengan alam,” jelasnya.

Nobar yang berlangsung tertib di Trenggalek tersebut memberikan sudut pandang baru bagi para santri mengenai tekanan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat adat Papua. Kegiatan itu juga menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus pembangunan nasional.(CIA)

Views: 52