TRENGGALEK, bioztv.id – Kabupaten Trenggalek kini menghadapi alarm serius terkait pengelolaan lingkungan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat lonjakan volume sampah yang masuk ke TPA Srabah dalam dua tahun terakhir, sehingga memicu kekhawatiran terhadap kapasitas daya tampung lahan pembuangan.
Data DLH Trenggalek menunjukkan fakta mencengangkan: total sampah pada 2024 mencapai 33.469 ton, lalu meningkat tajam menjadi 37.427 ton pada akhir 2025.
“Kami melihat tren peningkatan volume sampah yang masuk dari TPS menuju TPA Srabah,” ungkap Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan B3 DLH Trenggalek, Fahmi Rizab Syamsudi, Kamis (16/4/2026).
Ramadan dan Lebaran Picu Lonjakan Sampah
Fahmi menjelaskan bahwa peningkatan ini tidak terjadi secara konstan. Aktivitas konsumsi masyarakat saat Ramadan dan Lebaran mendorong lonjakan signifikan produksi sampah di Trenggalek.
“Lonjakan paling signifikan terjadi saat Ramadan dan Lebaran. Perayaan hari besar seperti momentum Agustusan juga ikut mendongkrak volume sampah di berbagai titik,” jelasnya.
Tren Pesan Antar Tingkatkan Sampah Plastik
Selain faktor musiman, DLH juga menyoroti perubahan perilaku masyarakat yang kini cenderung memilih gaya hidup praktis. Layanan pesan antar makanan memang mempermudah aktivitas, tetapi juga meningkatkan volume sampah kemasan.
“Masyarakat kini lebih memilih yang praktis. Layanan pesan antar memang membantu, tetapi juga menambah tumpukan sampah plastik sekali pakai dari bungkus makanan,” kata Fahmi.
Sampah Plastik Sulit Didaur Ulang
DLH Trenggalek memberi perhatian khusus pada jenis sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan sulit didaur ulang. Jenis sampah ini langsung menumpuk di TPA tanpa melalui proses daur ulang.
Beberapa jenis sampah yang menjadi perhatian utama antara lain:
- Styrofoam: Tidak memiliki nilai jual dan berisiko bagi kesehatan
- Kantong kresek: Nilai ekonominya rendah sehingga sering terabaikan
- Sedotan plastik dan mika: Hampir tidak bisa didaur ulang
DLH Dorong Perubahan Gaya Hidup
Sebagai langkah mitigasi, DLH Trenggalek mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk beralih ke alternatif ramah lingkungan. Penggunaan sedotan bambu dan wadah makanan pakai ulang menjadi solusi yang terus disosialisasikan.
Pemerintah daerah juga rutin mengeluarkan surat edaran untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai di berbagai sektor.
“Setiap tahun kami konsisten mengingatkan warga agar mengurangi penggunaan plastik yang tidak bernilai guna,” tegas Fahmi.
Tanpa perubahan perilaku masyarakat, lonjakan volume sampah ini berpotensi melampaui kapasitas TPA Srabah dan memicu krisis lingkungan yang lebih serius di masa depan.(CIA)
Views: 37

















