Tak Mungkin Pulang Ke Trenggalek, Prasasti Kampak & Kutukannya Terjaga di Musem Nasional

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Harapan masyarakat Trenggalek untuk menyambut kepulangan Prasasti Kampak, peninggalan bersejarah berusia lebih dari seribu tahun, harus kandas. Aturan konservasi Museum Nasional secara tegas melarang pengembalian artefak tersebut ke daerah asal. Di balik polemik ini, Prasasti Kampak justru menyimpan pesan kuno yang semakin relevan pada masa kini: peringatan keras terhadap perusakan lingkungan hidup.

Prasasti Kampak memuat pesan krusial itu pada bagian belakang batu dalam bentuk kutukan. Para sejarawan menafsirkan kutukan tersebut sebagai regulasi ekologis kuno yang mengikat siapa pun agar tidak merusak alam di wilayah Kampak. Prasasti ini secara eksplisit mengancam pelanggar dengan konsekuensi berat, mulai dari hilangnya keselamatan hingga kematian.

Kondisi Prasasti Aman di Musem Nasional

Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, memastikan kondisi fisik Prasasti Kampak setelah ia meninjau langsung ruang penyimpanannya di Museum Nasional.

“Kami datang langsung ke Museum Nasional untuk mengecek kondisi Prasasti Kampak. Alhamdulillah, kondisinya sangat baik dan terawat,” ujar Doding.

Museum Nasional saat ini menyimpan Prasasti Kampak di gudang konservasi khusus yang berlokasi di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Fasilitas ini tidak berfungsi sebagai ruang pameran umum, melainkan sebagai pusat konservasi dengan standar keamanan dan pemeliharaan tertinggi.

“Gudang penyimpanan Museum Nasional memiliki fasilitas yang sangat bagus. Dengan sistem itu, prasasti ini benar-benar aman dan terjaga dari risiko kerusakan,” tambahnya.

Regulasi Gagalkan Harapan Kepulangan Prasasti

Doding mengakui besarnya keinginan masyarakat dan pemerhati budaya untuk membawa pulang Prasasti Kampak ke Trenggalek. Namun, regulasi internal Museum Nasional secara tegas menutup peluang tersebut.

“Jika sebuah benda sudah berstatus koleksi Museum Nasional, aturan tidak memperbolehkan pengembalian ke daerah asal,” tegas Doding.

Selain alasan regulasi, pihak museum juga mempertimbangkan faktor keamanan. Mereka menilai pemindahan artefak berisiko tinggi dan berpotensi menimbulkan kerusakan atau kehilangan. Atas dasar itu, Museum Nasional memprioritaskan konservasi jangka panjang.

Replika dan Peminjaman Terbatas

Meski tidak memungkinkan pengembalian permanen, DPRD Trenggalek aktif menjalin komunikasi dengan Museum Nasional untuk mencari solusi alternatif.

“Kami sudah berdiskusi dengan pihak museum. Mereka mengizinkan Trenggalek membuat replika Prasasti Kampak,” jelas Doding.

Pembuatan replika memberi ruang bagi masyarakat Trenggalek untuk tetap mengakses, mempelajari, dan memaknai warisan sejarah daerah tanpa mengorbankan artefak asli. Selain itu, Museum Nasional juga membuka peluang peminjaman terbatas untuk agenda khusus, seperti pameran budaya atau kegiatan edukatif berskala tertentu.

Kutukan & Pesan Lingkungan yang Tetap Hidup

Dikutip dari berbagai sumber,  Prasasti Kampak ditemukan pada tahun 1862. Prasasti batu ini menetapkan Kampak sebagai sima swatantra atau wilayah otonom bebas pajak melalui titah Mpu Sindok sekitar tahun 929 Masehi. Prasasti ini menjadi bukti administratif tertua otonomi lokal Trenggalek sekaligus penanda pergeseran pusat kekuasaan Mataram Kuno ke Jawa Timur.

Namun, pesan ekologisnya justru paling menggugah hari ini. Meski Museum Nasional menyimpan fisiknya di Jakarta, Prasasti Kampak terus menyuarakan pesan moral yang tajam: siapa pun yang merusak alam akan menanggung risikonya sendiri. Pesan leluhur ini terasa semakin relevan di tengah krisis lingkungan modern yang kian nyata.(CIA)

Views: 70