TRENGGALEK, bioztv.id – Di tengah gencarnya kampanye ASI eksklusif, Puskesmas Ngulankulon justru menemukan banyak ibu mengalami gangguan kesehatan serius karena tidak mengeluarkan Air Susu Ibu (ASI) secara maksimal. Kondisi fatal ini bahkan membuat beberapa pasien harus menjalani operasi akibat infeksi parah yang dikenal sebagai mastitis.
Kepala Puskesmas Ngulankulon, dr. Ika Fibrin Fauziah, menjelaskan bahwa tubuh ibu terus memproduksi ASI. Ketika ibu tidak mengeluarkan ASI, payudara pun penuh dan membengkak. Banyak ibu menganggap kondisi ini sepele, padahal dampaknya sangat serius.
“Kalau sudah bengkak, bayi biasanya menolak minum. ASI pada payudara bengkak itu rasanya asin, tidak enak, dan panas karena suhu tubuh ibu biasanya ikut demam,” jelas Ika.
Pembengkakan yang ibu biarkan bisa berkembang menjadi mastitis, yaitu infeksi pada jaringan payudara. Ia mengungkapkan bahwa beberapa pasien datang terlambat dan kondisinya sudah parah.
“Beberapa kasus mastitis yang saya rujuk ke rumah sakit datang dalam kondisi terlambat. Payudara mereka sudah lama bengkak. Akhirnya, dokter harus membedah payudara untuk mengeluarkan ASI yang tertahan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa sebagian kasus sudah mengandung nanah sehingga dokter perlu melakukan operasi segera.
Mitos “40 Hari” Menghambat Penanganan Laktasi
Selain faktor kesehatan, dr. Ika menyoroti kuatnya pengaruh mitos budaya yang menghambat edukasi laktasi. Banyak ibu merasa tidak boleh keluar rumah sebelum melewati masa “40 hari” atau sebelum bayi “puput puser”.
“Itu mitos. Karena ibu terlambat datang untuk konseling, penanganan laktasi pun ikut terlambat,” tegas Ika.
Keterlambatan edukasi ini menimbulkan masalah baru, seperti fenomena bingung puting. Banyak bayi terbiasa minum dengan dot sejak lahir sehingga mereka enggan menyusu langsung pada ibunya.
“Dot, kalau kita balik, langsung netes. Bayi tinggal menyedot dengan enak. Tapi ketika harus menyusu ke ibu, dia butuh tenaga. Kalau bayi sudah menikmati yang mudah dulu, ya dia tidak mau ‘bekerja keras’. Akibatnya, dia tidak mengenal puting ibunya,” terangnya.
Strategi Jemput Bola: Edukasi Laktasi Diberikan Sedini Mungkin
Untuk mencegah kasus serupa terulang, Puskesmas Ngulankulon menjalankan layanan jemput bola. Petugas langsung mendatangi ibu pascamelahirkan guna memastikan mereka menerima edukasi laktasi sejak awal.
“Makanya kami jemput bola. Setelah ibu melahirkan, kami segera datang. Kami sangat prihatin kalau bayi tidak mendapatkan laktasi yang benar, karena itu sangat penting untuk tumbuh kembangnya,” pungkas Ika.(CIA)
Views: 26

















