Solusi Darurat di Tengah Ketidakpastian Hunian Tetap, Korban Tanah Gerak Ngrandu Mulai Tempati Huntara

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Setahun setelah tanah gerak menghancurkan permukiman mereka, puluhan warga Desa Ngrandu, Kecamatan Suruh, akhirnya menempati hunian yang lebih aman. Pemerintah Provinsi Jawa Timur meresmikan puluhan unit Hunian Sementara (Huntara) Kinasih Indah Persada (KIP) sebagai tempat tinggal baru bagi para korban bencana.

Bencana tanah gerak pada akhir Desember 2024 meretakkan dan mengamblaskan sebagian besar rumah warga hingga tidak layak huni. Sebanyak 119 warga meninggalkan kampung karena ahli geologi menetapkan kawasan tersebut sebagai zona berbahaya permanen.

Gubernur Resmikan Huntara

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, langsung meresmikan kompleks huntara dan menyatakan rasa leganya karena warga kini dapat kembali tinggal di tempat yang lebih layak.

“Menurut saya daerahnya sangat strategis, dekat jalan raya dan dekat perkampungan. Meskipun hunian sementara, saat kami resmikan masjidnya sudah tersedia,” ujar Khofifah, Kamis (4/12/2025).

Ia menegaskan bahwa huntara bersifat semi permanen. Jika warga ingin mengubahnya menjadi hunian tetap, mereka harus mengikuti prosedur lanjutan sesuai regulasi dan status lahan.

“Kalau nanti warga ingin menjadikannya hunian tetap, mereka perlu menyelesaikan renovasi serta aturan kepemilikan lahan. Pak Bupati akan mengoordinasikan prosesnya,” jelasnya.

Huntara KIP Tak Hanya Tempat Tinggal

Fasilitas KIP Ngrandu berbeda dengan huntara di banyak daerah lain. Pemerintah melengkapinya dengan kandang komunal, domba produktif, lahan tanam belakang rumah, serta sarana dasar seperti listrik dan akses jalan.

“Kami ingin warga tetap punya ruang untuk melanjutkan kegiatan ekonomi. Bahkan mereka bisa memanfaatkan lahan belakang rumah untuk menanam sayur,” kata Khofifah.

Ia mengapresiasi seluruh unsur pemerintah yang bergerak cepat menangani warga terdampak.

“Terima kasih untuk Pak Bupati, Perhutani, Kepala Desa, Camat, dan forkopimda. Semua bergerak cepat membantu warga,” ujarnya.

27 Unit Berdiri di Lahan Perhutani Demi Keselamatan

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, alias Mas Ipin menjelaskan bahwa pemerintah membangun 27 unit huntara di lahan Perhutani. Selain itu, 11 kepala keluarga memilih membangun rumah sendiri di lahan pribadi mereka.

“Kami memilih lokasi ini demi keselamatan. Vegetasi di sekitar masih rapat, dan kondisi tanahnya lebih stabil. Kami berharap kejadian serupa tidak terulang,” ujar Mas Ipin.

Ia berharap huntara menjadi titik awal pemulihan warga pascabencana yang kehilangan rumah dan mata pencaharian.

“Pemerintah Jatim tidak hanya menyediakan lokasi relokasi, tetapi juga memperbaiki infrastruktur. Kami segera mengaspal dan membuka akses jalan. Terima kasih Bu Gubernur yang juga memberikan bantuan kebutuhan pokok,” jelasnya.

Bencana pada Desember 2024 memaksa warga mengosongkan kampung. Tanah yang terus bergerak memicu longsor, merusak rumah, dan memutus akses utama ke Dusun Depok, Desa Ngrandu. Kondisi geologi yang terus berubah membuat kawasan tersebut tidak aman untuk dihuni.

Sebanyak 119 warga mengungsi selama berbulan-bulan di penampungan darurat hingga pemerintah merampungkan program huntara. Dengan hadirnya hunian sementara dan fasilitas ekonomi pendukung, warga Ngrandu kini dapat memulai kembali kehidupan mereka—meski kepastian hunian tetap masih menunggu proses panjang.(CIA)

Views: 30