TRENGGALEK, bioztv.id – Pemerintah Kabupaten Trenggalek bersiap melepas pengelolaan salah satu aset wisatanya, Kolam Renang Tirta Jwalita, kepada pihak ketiga. Pemkab mengambil langkah ini demi mengoptimalkan pendapatan daerah sekaligus menekan beban operasional yang selama ini dinilai terlalu tinggi.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, Sunyoto, membenarkan bahwa proses pengalihan pengelolaan destinasi ini sedang berjalan. Proses penilaian aset (appraisal) oleh Badan Keuangan Daerah (Bakeuda) tengah dilakukan untuk menentukan nilai sewanya.
“Saat ini masih tahap appraisal oleh Bakeuda. Nanti kalau angkanya sudah keluar, kita lanjutkan ke proses seleksi. Ada tiga calon investor yang sudah mendaftar, baik dari Trenggalek maupun luar daerah,” ungkap Sunyoto.
Selama ini, Kolam Renang Tirta Jwalita pemerintah daerah kelola langsung. Namun, biaya operasionalnya membengkak karena mayoritas pegawai yang bertugas di sana berstatus PNS. Imbasnya, anggaran yang dikeluarkan untuk gaji dan operasional justru tidak seimbang dengan pendapatan yang masuk.
“Terus terang operasionalnya berat. Karena pegawai di sana mayoritas PNS dengan golongan cukup tinggi. Semakin tinggi golongan, tentu gajinya juga besar, sementara pendapatan dari kolam belum optimal,” jelasnya.
Disparbud Trenggalek juga membuka peluang agar ke depan, selain skema sewa, opsi bagi hasil (profit sharing) dapat diterapkan jika investor yang mengelola merasa usahanya menguntungkan. Namun, untuk tahap awal, opsi sewa dianggap paling realistis agar proses pengalihan cepat terealisasi.
“Sementara ini kita sepakati opsi sewa dulu. Profit sharing bisa saja dilakukan, tapi prosesnya pasti lebih panjang. Jika nanti penyewa merasa untung dan ingin memperpanjang kontrak, bisa kita evaluasi ulang skemanya,” tambah Sunyoto.
Selain Tirta Jwalita, Pemkab Trenggalek juga mempertimbangkan menyerahkan pengelolaan beberapa aset wisata lain ke swasta, seperti Hotel Prigi dan Rumah Cokelat. Harapannya, aset-aset tersebut dapat dikelola lebih profesional, produktif, dan mendatangkan PAD lebih besar tanpa membebani APBD.
Langkah ini sekaligus menjadi strategi Disparbud Trenggalek untuk merespons capaian PAD sektor pariwisata yang masih rendah di semester pertama 2025.
“Semoga dengan optimalisasi aset melalui pihak ketiga, kinerja keuangan sektor pariwisata daerah dapat terdongkra,” pungkasnya.(CIA)
Views: 53
















