Anjungan Cerdas Bendungan Tugu Trenggalek, Fasilitas Miliaran yang Tidur Bertahun-tahun

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Setelah bertahun-tahun mangkrak, rest area Anjungan Cerdas di sekitar Bendungan Tugu Trenggalek akhirnya menunjukkan harapan untuk segera dioperasikan. Langkah menariknya, pengelolaan kawasan megah yang terletak strategis di tepi Jalan Nasional Trenggalek-Ponorogo ini direncanakan melibatkan sinergi dengan Kabupaten Ponorogo.

Wacana kolaborasi pengelolaan anjungan cerdas ini disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, saat kunjungannya ke Trenggalek. Emil, yang juga mantan Bupati Trenggalek, menyatakan bahwa komunikasi intensif antar kepala daerah telah terjalin demi mencari solusi terbaik.

“Kami telah berdiskusi dengan Bupati Ponorogo mengenai pengelolaan bersama Anjungan Cerdas di Bendungan Tugu ini. Lokasinya yang berada di perbatasan menjadi pertimbangan utama. Kami berharap, dalam satu hingga dua bulan mendatang, sudah ada progres nyata agar fasilitas ini dapat segera dimanfaatkan,” ungkap Emil.

Potensi Besar yang Terabaikan

Merujuk data dari situs resmi www.bpiw.pu.go.id, pembangunan Anjungan Cerdas ini menelan anggaran lebih dari Rp60 miliar dari Kementerian PUPR sejak tahun 2016. Bangunan fisik selesai pada tahun 2018 dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo bersamaan dengan peresmian Bendungan Tugu pada tahun 2021. Namun, sangat disayangkan, hingga saat ini kawasan tersebut belum dibuka dan dimanfaatkan secara optimal.

Selama ini, area tersebut hanya digunakan sesekali untuk acara-acara pemerintah daerah dan provinsi, tanpa adanya operasional yang bersifat permanen. Potensi besar kawasan ini pun terkesan sia-sia.

Padahal, dengan pengelolaan yang serius, Anjungan Cerdas berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di jalur nasional WPS 12, sekaligus menghubungkan potensi pariwisata dan usaha mikro antar wilayah.

Lebih dari Sekadar Rest Area

Perlu dipahami bahwa Anjungan Cerdas dirancang bukan hanya sebagai rest area biasa. Kawasan ini didesain sebagai penghubung ekonomi antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Fungsinya melampaui pelayanan pengguna jalan, menjadikannya pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

Sesuai rencana awal, di dalamnya akan terdapat enam klaster utama: kuliner, kesenian & budaya, agro-maritim, wisata, industri kreatif, dan layanan. Melalui klaster-klaster ini, Anjungan Cerdas diharapkan menjadi wadah pemasaran produk lokal, promosi seni budaya, inkubasi bisnis, hingga sarana edukasi bagi masyarakat sekitar.

Sayangnya, potensi tersebut hingga kini belum terwujud secara maksimal. Bahkan, sistem pengelolaan dan kelembagaannya pun masih belum jelas.

“Tentu, pengelolaan utama ke depan tetap berada di tangan Trenggalek. Namun, untuk meringankan beban dan memaksimalkan potensi, kami ingin melibatkan Ponorogo. Kawasan ini berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi bersama,” lanjut Emil.

Optimisme Pengoperasian dalam Waktu Dekat

Emil menargetkan adanya kepastian mengenai sistem pengelolaan kerjasama antar daerah dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan. Ia menilai bahwa destinasi ini memiliki peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.

“Dalam satu atau dua bulan ke depan, pasti akan ada perkembangan pergerakan,” pungkas Emil. (CIA)

Views: 195