Korupsi Dirut Pertamina Oplos Pertamax Berdampak pada Penurunan Omzet SPBU di Trenggalek

oleh
oleh
omzet harian penjualan Pertamax turun drastis pasca-pemberitaan kasus korupsi pertamina
omzet harian penjualan Pertamax turun drastis pasca-pemberitaan kasus korupsi pertamina

TRENGGALEK, bioztv.id – Kasus korupsi yang menjerat Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina, Riva Siahaan, ternyata berdampak langsung pada penjualan bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Surodakan, Trenggalek. Riva Siahaan diduga melakukan praktik pencampuran BBM Pertamax dengan BBM bersubsidi jenis Pertalite, yang membuat kepercayaan masyarakat terhadap produk Pertamax menurun.

Kurniarti Baskoro Edi, Kepala SPBU Surodakan, mengungkapkan bahwa omzet harian penjualan Pertamax turun drastis pasca-pemberitaan kasus tersebut.

“Pasca-kejadian itu, tren konsumen Pertamax menurun. Dalam dua hari terakhir, omzet harian turun dari 4,2-4,5 ton menjadi hanya 2,2-2,4 ton per hari,” ujar Bas, sapaan akrabnya, Senin (3/3/2025).

Penurunan ini, menurut Bas, dipicu oleh menurunnya kepercayaan konsumen terhadap kualitas Pertamax.

“Masyarakat khawatir ada praktik pencampuran yang tidak sesuai standar. Ini yang membuat mereka beralih ke jenis BBM lain,” jelasnya.

Meski penjualan Pertamax menurun, Bas mencatat adanya peningkatan permintaan untuk Pertalite.

“Ada kenaikan sekitar 500-600 liter per hari, atau sekitar 0,5 ton. Tapi ini tidak signifikan karena kami hanya memiliki satu dispenser dan dua nozel untuk Pertalite. Antreannya sudah panjang,” ungkapnya.

Bas menegaskan bahwa SPBU Surodakan selalu memastikan kualitas BBM melalui alat Quality dan Quantity (QnQ). Namun, alat ini tidak bisa mendeteksi detail kandungan bahan bakar seperti Research Octane Number (RON).

“Kami hanya bisa memeriksa suhu dan densitas. Untuk RON, itu butuh alat khusus yang tidak kami miliki. Kami mengandalkan Pertamina untuk memastikan kualitas BBM yang dikirim,” jelasnya.

Meski kasus korupsi ini menimbulkan gejolak, Bas memastikan bahwa proses distribusi BBM di SPBU Surodakan tetap lancar.

“Tidak ada hambatan dalam pemesanan dan pengiriman BBM. Kami masih memiliki cadangan sekitar 10 ton, jadi stok kami cukup melimpah,” ujarnya.

Dampak kasus ini tidak hanya dirasakan oleh SPBU Surodakan, tetapi juga oleh konsumen. Beberapa pengendara mengaku lebih memilih Pertalite karena harganya lebih terjangkau.

“Saya lebih memilih Pertalite karena harganya lebih murah. Apalagi sekarang ada isu pencampuran Pertamax, jadi saya khawatir,” kata Andi, salah satu pengendara yang mengisi BBM di SPBU Surodakan.

Masyarakat Trenggalek berharap Pertamina segera mengambil langkah untuk memulihkan kepercayaan publik.

“Kami ingin Pertamina lebih transparan dalam memastikan kualitas BBM. Jangan sampai kasus seperti ini merugikan konsumen,” ujar Rina, warga Trenggalek yang kerap menggunakan Pertamax untuk kendaraannya.

Kasus korupsi ini menjadi ujian berat bagi Pertamina dalam menjaga reputasi dan kepercayaan masyarakat. Sementara itu, SPBU Surodakan berupaya memastikan pelayanan tetap optimal meski di tengah penurunan omzet.

“Kami akan terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan kualitas BBM yang kami jual,” pungkas Bas.(CIA)

Views: 3