Mahasiswa ITB-AD Gencarkan Program Pencegahan dan Penanganan Stunting di Desa Cimara, Kuningan

oleh
oleh
Mahasiswa ITB-AD Gencarkan Program Pencegahan dan Penanganan Stunting Bareng di Desa Kuningan
Mahasiswa ITB-AD Gencarkan Program Pencegahan dan Penanganan Stunting Bareng di Desa Kuningan

KUNINGAN, bioztv.id – Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta di Jawa Barat, kembali menunjukkan kontribusinya dalam mendukung pencegahan dan penanganan stunting di Desa Cimara, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan. Melalui Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).  Kustar, mahasiswa semester 6 ITB AD, berkolaborasi dengan Pemerintah Desa setempat.

Menuurut Kustar, Desa Cimara, yang terletak di ketinggian 255 meter dari permukaan laut dengan kondisi geografis yang beragam, menghadapi berbagai tantangan yang berkontribusi pada tingginya angka stunting di daerah tersebut. Kondisi ini diperparah oleh beberapa faktor seperti kurangnya pengetahuan gizi, polusi lingkungan, akses terbatas terhadap gizi berkualitas, praktik pemberian makanan yang tidak tepat, dan kondisi ekonomi yang kurang mendukung.

“Stunting bukan hanya soal pertumbuhan fisik yang terhambat, tetapi juga mempengaruhi perkembangan kognitif anak yang dapat berdampak pada masa depan mereka,” ujar Kustar.

Untuk mengatasi masalah ini, berbagai solusi ditawarkan dalam proyek MBKM tersebut. Kegiatan dimulai dengan koordinasi bersama Pemerintah Desa Cimara dan pelatihan kapasitas kader Posyandu serta Kader Pembangunan Manusia (KPM). Program ini juga melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti Puskesmas, ahli gizi, dan tenaga kesehatan.

“Kami mengadakan rembug stunting untuk menyusun rencana kerja yang fokus pada pencegahan dan penanganan stunting. Ini adalah upaya kolaboratif yang melibatkan semua pihak terkait,” jelas Kustar.

Dalam proses pelaksanaan program, Kustar memetakan dalam beberapa jenis kegiatan. Pertama Edukasi Gizi dan Kesehatan. WUjud kegiatan nyata dilapangan berupa kampanye penyuluhan tentang pentingnya gizi seimbang dan praktik pemberian makanan yang tepat.

Kegiatan keduaberupa pengelolaan lingkungan. Wujud kegiatanya berupa pengelolaan sampah melalui pengadaan mesin pemilah/pencacah sampah, yang telah dianggarkan dalam APBDes 2024.

“Sanitasi lingkungan yang baik sangat erat kaitannya dengan pencegahan stunting,” kata Kustar.

Langkah ketiga berupa penguatan peran posyandu. Kegiatan ini diisi dengan pelatihan bagi kader Posyandu dan peningkatan peran aktif masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Sedangkan yang ke-empat adalag distribusi gizi berkualitas.

“Langkah ini bisa dilakukan dengan penyediaan suplemen gizi dan pemberian makanan tambahan (PMT) bagi keluarga yang membutuhkan,” jelas Kustar.

Kustar juga menegaskan jika program penanganan stunting ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Cimara. Program ini  juga menjadi model intervensi yang dapat diterapkan di wilayah lain.

“Pencegahan stunting bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak. Untuk jangka panjangnya akan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Desa Cimara,” imbuhnya.

Bagi mahasiswa, program ini juga menjadi ajang pembelajaran praktis yang berharga, memberikan pengalaman lapangan, serta meningkatkan kesadaran sosial dan empati terhadap isu-isu kesehatan masyarakat.

“Jika biasanya saya hanya mempelajari dari ruang dan bangku kuliah secara teori, melalui program ini, saya bisa mengaplikasikan langsung apa yang pernah saya pelajari,” jelas Kustar.

Program MBKM yang diinisiasi oleh Kustar di Desa Cimara telah berhasil mencapai target yang ditetapkan, seperti terlaksananya sosialisasi gizi, rembug stunting, dan pelatihan literasi gizi bagi masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Desa Cimara untuk melanjutkan upaya pencegahan dan penanganan stunting secara berkelanjutan.

“Kami menyarankan agar program-program ini dievaluasi secara berkala. Selain itu demi keberlanjutan program, kerjasama antarsektor juga ahrus diperkuat,” tutup Kustar.(MMA)

Views: 2