TRENGGALEK, bioztv.id – Suara gamelan berpadu dengan teriakan riuh peserta memecah suasana sore di Lapangan Desa Sukorame, Kecamatan Gandusari, Minggu (21/9/2025). Ratusan warga tumpah ruah menyaksikan tradisi tua yang kian jarang terlihat: tiban.
Di tengah sorak-sorai itu, seorang politisi muda hadir bukan sekadar menonton. Robbi Danang Eko Suputro, SH, Sekretaris DPC PKB Trenggalek sekaligus anggota DPRD, memimpin lahirnya Festival Tiban. Ia bergerak bersama paguyuban “Gajah Putih” untuk memastikan budaya tiban tetap hidup meski modernisasi kian deras.
“Alhamdulillah, antusias masyarakat luar biasa. Sekitar 400 peserta ikut, mulai dari Trenggalek, Tulungagung, hingga Blitar. Ini bukti bahwa tiban masih punya tempat di hati banyak orang,” ujar Danang dengan wajah sumringah.
Tiban, Tradisi yang Nyaris Terlupakan
Bagi sebagian anak muda, tiban terdengar asing. Padahal, di masa lalu, tradisi ini melekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan Trenggalek. Tiban tidak hanya menyajikan tontonan adu ketangkasan, tetapi juga memuat nilai spiritual, gotong royong, dan ekspresi seni.
Arus budaya populer membuat tradisi ini semakin jarang tampil. Dari situlah Danang merasa terpanggil.
“Kita sebagai pemuda harus punya jiwa untuk memberikan semangat melestarikan budaya. Tiban ini bagian dari identitas Trenggalek yang wajib kita jaga,” tegasnya.
Festival yang Menghidupkan Desa
Festival Tiban di Sukorame lebih dari sekadar hiburan. Acara ini menghidupkan desa. Jalanan penuh pengunjung, pedagang kaki lima kebanjiran pembeli, dan lapangan desa yang biasanya sepi berubah menjadi pusat keramaian.
Sejumlah tokoh penting juga hadir, mulai dari Sukarudin selaku penasihat Paguyuban Gajah Putih sekaligus Ketua DPC PKB Trenggalek, Muspika Gandusari, hingga Kepala Desa Sukorame. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa pelestarian budaya mendapat dukungan lintas elemen.
“Jadi, ini bukan sekadar hiburan, tapi benar-benar misi melestarikan budaya,” ujar Danang penuh semangat.
Politik yang Bernapas Budaya
Danang menempuh jalur berbeda dibanding kebanyakan politisi muda yang lebih sering bicara soal pembangunan fisik atau ekonomi. Ia memilih budaya sebagai bagian dari perjuangan politiknya. Baginya, melestarikan tradisi berarti menjaga identitas lokal sekaligus memperkuat daya tarik Trenggalek.
“Harapan besar kami, festival seperti ini tidak berhenti di sini. Bisa digelar rutin, bahkan tiga bulan sekali, atau bergilir ke daerah lain di Trenggalek,” tegas Danang.
Festival Tiban di Sukorame meninggalkan kesan mendalam. Acara ini membuktikan bahwa ketika anak muda turun tangan, budaya lama bisa hidup kembali, bukan sekadar jadi cerita sejarah.
Danang memang politisi, tetapi dalam festival itu ia lebih tampak sebagai penjaga warisan leluhur. Ia menunjukkan keyakinannya bahwa kemajuan daerah tidak boleh membuat masyarakat melupakan akar budaya mereka sendiri.(CIA)
Views: 189
















