Kisah Inspiratif Besek Bambu Trenggalek Dobrak Marketplace, Emak-Emak Sengon Untung Besar

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Di tengah geliat industri modern, kerajinan tradisional terus menunjukkan eksistensinya. Dhany Prasetyo, bersama puluhan ibu rumah tangga di Desa Sengon, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, berhasil mengangkat ekonomi desa dan melestarikan warisan budaya melalui anyaman besek bambu.

Dhany menekuni usaha besek bambu ini bukan sekadar mengejar keuntungan pribadi. Pria asli Desa Sengon ini tergerak oleh keprihatinannya terhadap kondisi para perajin besek di kampungnya. Dulu, tengkulak dari luar desa hanya menghargai satu kodi (20 buah) besek Rp7.000, nilai yang sangat tidak sebanding dengan proses pembuatannya yang rumit.

“Sebelum saya menggeluti usaha ini, harga jual dari pengrajin ke pengepul luar desa itu sangat murah,” ujar Dhany Prasetyo.

Harga murah tersebut tidak sebanding dengan proses pembuatan besek bambu yang panjang. Mengingat bahan bakunya adalah bambu, prosesnya tentu tidak mudah sehingga harga jual harus mencerminkan upaya yang dilakukan.

“Prosesnya dimulai dari menebang bambu, menjemur, hingga menganyam. Ini sangat melelahkan,” imbuhnya.

Mengangkat Kesejahteraan Warga Melalui Marketplace

Berbekal keinginan untuk memperbaiki nasib warga, Dhany memutuskan membeli besek langsung dari para perajin dengan harga yang lebih layak. Ia kemudian menjualnya melalui platform marketplace. Perlahan, bisnisnya berkembang pesat. Jika awalnya hanya satu atau dua kodi yang laku, kini Dhany mampu menjual 50 hingga 75 kodi per bulan. Bahkan, saat momen Lebaran dan Idul Adha, penjualan bisa menembus 300 kodi.

Sebagian besar pelanggan Dhany berasal dari berbagai kota besar seperti Surabaya dan Jakarta, hingga luar Pulau Jawa, termasuk Kalimantan. Selain sebagai wadah makanan tradisional, besek produksinya banyak dipesan untuk hampers dan wadah sarang burung walet.

Peran Krusial Emak-Emak Desa Sengon

Di balik kesuksesan usaha ini, peran emak-emak desa sangatlah besar. Saat ini, total sekitar 44 ibu rumah tangga rutin memproduksi besek. Salah satunya adalah Ruroh (28), yang telah menekuni kerajinan ini selama empat tahun.

“Saya sudah sekitar empat tahun membuat besek ini, Mas. Biasanya sehari bisa menghasilkan satu kodi. Harga jualnya sekarang lumayan, jauh lebih tinggi,” kata Ruroh sambil tersenyum.

Meskipun harus membeli bambu dari tetangga karena tidak memiliki pohon bambu sendiri, Ruroh mengaku masih mendapatkan keuntungan.

“Bambu saya beli dari tetangga karena saya tidak punya pohonnya,” tambah Ruroh.

Kualitas Unggul dan Harga Kompetitif

Keunggulan besek buatan ibu-ibu Desa Sengon binaan Dhany tidak hanya terletak pada harga, tetapi juga kualitasnya. Anyaman mereka lebih halus, minim serat, dan hasilnya lebih rapi dibandingkan produk serupa di pasaran. Dhany pun mematok harga kompetitif, mulai dari Rp1.000 per buah hingga Rp6.000 per pasang untuk besek warna-warni premium.

“Kalau membeli dari saya, itu berarti Anda ikut membantu ekonomi warga desa sini. Karena semua diproduksi langsung oleh ibu-ibu lingkungan sini,” tambah Dhany.

Kini, usaha besek bambu dari pelosok Trenggalek ini tidak hanya menjadi tumpuan hidup puluhan ibu rumah tangga. Kerajinan anyaman besek bambu ini telah membuktikan bahwa produk tradisional mampu bersaing di pasar modern, asalkan dikelola dengan serius dan didukung strategi pemasaran yang tepat.(CIA)

Views: 55