TRENGGALEK, bioztv.id – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Trenggalek mempercepat program Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan menekan emisi gas rumah kaca. Bapperida jga menetapkan Desa Gading, Kecamatan Tugu sebagai percontohan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Trenggalek, Ratna Sulistyowati mengatakan, strategi sanitasi kabupaten menjadi salah satu upaya untuk mencapai visi RPJPD Kabupaten Trenggalek. Yaitu net zero carbon, berpendapatan tinggi, dan berdaya saing kolektif.
“Kita tahu bahwa saat ini itu kondisi lingkungan itu sudah menjadi isu global, tidak hanya di Trenggalek saja,” ujarnya.
Pada 2024, sektor persampahan menghasilkan emisi sekitar 71.471 ton CO₂ atau 10 persen dari total emisi daerah. Sementara itu, sektor air limbah menyumbang sekitar 28.380 ton CO₂ atau 3 persen. Karena itu, Trenggalek perlu memperbaiki tata kelola sanitasi untuk mendukung pembangunan rendah karbon.
“Sektor persampahan dan air limbah domestik masih menyumbang emisi karbon yang cukup signifikan terhadap lingkungan, Jelas Ratna.
Data Bapperida menunjukkan akses sanitasi aman di Trenggalek Tahun 2025 sebesar 0,2 persen. Capaian tersebut masih di bawah target daerah sebesar 7,99 persen dan target nasional dalam RPJMN 2024–2029 sebesar 30 persen.
Di sisi lain, akses sanitasi layak telah mencapai 84,85 persen. Namun, angka tersebut belum menjamin seluruh rumah tangga mengelola air limbah domestik sesuai standar kesehatan dan lingkungan.
Ratna juga menjelaskan bahwa saat ini Bapperida Trenggalek menunjuk Desa Gading, Kecamatan Tugu, sebagai kampung percontohan percepatan sanitasi aman. Alasannya, karena masyarakat setempat memiliki kesadaran dan partisipasi tinggi dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Tim dari provinsi melakukan evaluasi itu untuk melihat langsung implementasi di lapangan,” ujar Ratna saat memantau kegiatan monitoring dan evaluasi SSK.
Gotong Royong dan Pengelolaan Sampah
Pemerintah Desa Gading menyambut positif penunjukan tersebut. Kepala Desa Gading, Wiryanto, mengatakan bahwa masyarakat telah lama menginisiasi gerakan gotong royong untuk mengelola sampah dan menata lingkungan secara mandiri.
Warga memilah sampah organik untuk diolah menjadi pupuk kompos. Sementara itu, mereka menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah untuk meningkatkan nilai ekonomi dan menambah pendapatan keluarga.
“Kesehatan masyarakat itu bisa terwujud kalau kita gotong royong bersama-sama,” tutur Wiryanto.
Kebiasaan tersebut menjadi fondasi bagi Desa Gading untuk mengembangkan pengelolaan sanitasi secara lebih menyeluruh. Salah satu fokusnya ialah menata tangki septik rumah tangga agar memenuhi standar teknis.
Bapperida Libatkan Lintas OPD
Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Trenggalek, Dr. Heri Prasetyo, menegaskan bahwa percepatan sanitasi membutuhkan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Bapperida menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub), DPMD, serta Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.
“Ketika kita berhasil di Desa Gading ini, tentunya kita akan mencoba untuk mengimplementasikan di seluruh desa di Kabupaten Trenggalek,” terang Heri.
Melalui program ini, pemerintah mendorong optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), penguatan kapasitas bank sampah, serta pemicuan pemanfaatan tangki septik kedap air.
Sebagai bagian penting dari rantai sanitasi aman, Pemkab Trenggalek merencanakan pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) pada 2027.
“Pemkab Trenggalek merencanakan pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) pada 2027. Harapannya mampu mendukung pengurasan tangki septik dan pengolahan lumpur tinja secara terpadu,” tegas Heri.(CIA)
Views: 12

















