TRENGGALEK, bioztv.id – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah belum mengajukan permohonan pencabutan status suspend hingga awal September 2026.
Pengelola SPPG Tamanan masih mengevaluasi seluruh sistem pengelolaan setelah hasil uji laboratorium menemukan cemaran bakteri pada sampel makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Trenggalek, Shiella Ammanda Yanu Fadilla, mengatakan pengelola SPPG Tamanan harus menuntaskan pembenahan mendasar sebelum mengajukan kembali izin operasional.
Pembenahan itu mencakup perbaikan fisik sarana dan prasarana, perubahan sistem manajemen, hingga penataan ulang rantai pasok bahan makanan.
“Hasil laboratorium yang ada menuntut langkah konkret. Pengelola harus mengganti penyedia bahan (supplier), memperbaiki sarana prasarana, serta menambal berbagai kekurangan di lapangan,” kata Shiella.
Menurut Shiella, pengelola SPPG Tamanan harus menjadikan hasil uji laboratorium sebagai dasar untuk memperbaiki seluruh proses kerja di dapur.
Ia menegaskan, Satgas MBG belum akan memproses pencabutan suspend sebelum pengelola menyelesaikan evaluasi secara menyeluruh.
“Pengelola masih terus membenahi kualitas SPPG, baik dari sisi kelayakan fasilitas maupun sistem manajemen. Hingga saat ini, mereka belum mengajukan permohonan pencabutan status suspend,” tegasnya.
Temuan Bakteri Jadi Dasar Evaluasi Total
Kasus dugaan keracunan makanan di SPPG Tamanan menyita perhatian publik setelah ratusan penerima manfaat MBG mengalami gangguan pencernaan secara massal.
SPPG Tamanan membagikan menu berupa nasi putih, ayam bumbu sate, tahu fantasi, tumis bayam dan jagung, serta potongan buah semangka pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Sehari setelah pembagian makanan, sejumlah penerima manfaat mulai mengeluhkan sakit perut hebat, mual, muntah, hingga diare akut.
Data resmi Satgas MBG Trenggalek hingga Kamis, 13 Agustus 2026, mencatat 549 penerima manfaat mengalami gejala gangguan kesehatan.
SMPN 1 Trenggalek mencatat jumlah korban terbanyak, yakni 493 siswa dan guru. Sebanyak 30 warga SDI Luqman Al Hakim serta 26 penerima manfaat dari Posyandu Kelurahan Tamanan juga mengalami gejala serupa.
Tim medis bahkan membawa seorang siswa SDI Luqman Al Hakim berinisial SA (11) ke RSUD dr. Soedomo Trenggalek karena mengalami muntah, diare parah, dan dehidrasi.
Untuk mencari penyebab kejadian tersebut, petugas mengambil sampel makanan dan mengirimkannya ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.
Pada 24 Agustus 2026, Satgas MBG Trenggalek menerima hasil uji laboratorium yang menunjukkan adanya cemaran bakteri.
Laboratorium menemukan koloni Bacillus cereus pada sampel nasi putih. Petugas juga menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel olahan buah semangka.
Sementara itu, Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, mengatakan hasil pemeriksaan tidak menemukan cemaran kuman pada sampel ayam bumbu sate, bayam dan jagung, serta tahu fantasi.
Temuan tersebut mendorong pengelola SPPG Tamanan memperbaiki seluruh sistem produksi. Mereka tidak hanya menghentikan operasional dapur sementara, tetapi juga harus mengevaluasi pengadaan bahan mentah, sterilisasi area pengolahan, hingga memperketat standar operasional prosedur (SOP) penyajian makanan.
Pemerintah Alihkan Layanan Ribuan Penerima MBG
Penghentian sementara operasional SPPG Tamanan tidak menghentikan pemenuhan gizi bagi masyarakat.
Pemkab Trenggalek mengalihkan distribusi makanan bagi sekitar 2.000 penerima manfaat ke dapur SPPG terdekat.
“Petugas mengalihkan rute distribusi ke SPPG terdekat. Namun yang terpenting, kami tetap menanyakan kesediaan para penerima manfaat untuk menerima kembali menu MBG, sebab hal itu menjadi hak masing-masing warga,” terang Shiella.
Ia menjelaskan, pemerintah mengambil langkah tersebut untuk mencegah kekosongan pasokan makanan bergizi bagi pelajar dan warga penerima program.
“Kami mengalihkan seluruh penerima manfaat dari SPPG Tamanan ke dapur SPPG lain agar layanan MBG tetap membackup kebutuhan mereka,” paparnya.
Meski begitu, pengelola program tidak memaksakan pembagian makanan kepada sekolah maupun warga yang masih merasa trauma setelah kejadian tersebut.
Khusus SMPN 1 Trenggalek, Shiella mengatakan pihak sekolah memilih menghentikan sementara penerimaan paket MBG sampai batas waktu yang belum ditentukan.
“Sejauh yang saya tahu, SMPN 1 Trenggalek belum menerima kembali pasokan MBG sampai ada arahan dan evaluasi lanjutan,” ungkapnya.
Shiella menegaskan Satgas MBG menghormati keputusan setiap penerima manfaat, baik yang bersedia maupun belum bersedia menerima kembali makanan dari program tersebut.
“Jika mereka berkenan menerima, kami siap melayani. Namun jika mereka memilih belum menerima, kami sangat menghargai keputusan tersebut,” pungkasnya.(CIA)
Views: 17

















