TRENGGALEK, bioztv.id – Polemik turnamen sepak bola antarpelajar di Trenggalek mendorong komunitas Shrimp Army memindahkan gelaran Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 ke daerah tetangga. Panitia memilih Tulungagung setelah melihat polemik perizinan yang berujung pada sanksi terhadap sembilan perangkat pertandingan.
Pimpinan Shrimp Army Group, Anjar Priadi Putra, menyoroti turnamen pelajar di Trenggalek yang tidak mengantongi rekomendasi resmi dari Askab PSSI Trenggalek. Panitia tetap menjalankan pertandingan hingga tuntas, sementara Komisi Disiplin Askab PSSI Trenggalek kemudian menjatuhkan sanksi kepada sembilan perangkat pertandingan.
Bagi Anjar, kasus tersebut menjadi pertimbangan serius ketika komunitasnya merancang turnamen senior tingkat se-Karesidenan Kediri.
“Kalau kita menengok sedikit ke belakang, turnamen sepak bola antarpelajar kemarin justru tidak mendapatkan rekomendasi dari Askab PSSI Trenggalek,” ujar Anjar, Sabtu (22/8/2026).
Turnamen Tetap Berjalan, Komdis Sanksi 9 Wasit
Anjar mengatakan panitia turnamen pelajar tetap menjalankan pertandingan meski belum memperoleh rekomendasi resmi dari federasi daerah.
Keputusan tersebut kemudian berdampak kepada perangkat pertandingan. Komisi Disiplin Askab PSSI Trenggalek memberikan sanksi kepada sembilan wasit yang memimpin pertandingan dalam turnamen tersebut.
“Ujung-ujungnya, Komisi Disiplin Askab PSSI Trenggalek menjatuhkan sanksi tegas kepada para wasit yang terlibat dalam event tersebut,” ungkapnya.
Menurut Anjar, sedikitnya sembilan wasit menerima sanksi skorsing karena memimpin pertandingan yang tidak memperoleh rekomendasi.
Kondisi itu membuat Shrimp Army memilih langkah lebih hati-hati. Anjar tidak ingin komunitasnya mengorbankan perangkat pertandingan atau melanggar mekanisme kompetisi hanya demi menggelar turnamen di Trenggalek.
Shrimp Army Pilih Amankan Perizinan di Tulungagung
Bagi Anjar, kepastian rekomendasi dan mekanisme perizinan menjadi syarat utama sebelum panitia menjalankan sebuah turnamen.
“Bayangkan saja, mengurus surat rekomendasi di Trenggalek itu sangat tidak mudah,” tegasnya.
Ia menilai penyelenggara perlu memiliki kepastian hukum sebelum menggelar pertandingan. Apalagi, pelaksanaan turnamen tanpa rekomendasi dapat menimbulkan konsekuensi bagi perangkat pertandingan.
“Kondisi ini tentu sangat tidak bagus. Kami sama sekali tidak mau menabrak mekanisme dan regulasi yang berlaku,” katanya.
Karena pertimbangan tersebut, Shrimp Army memilih Kabupaten Tulungagung sebagai lokasi turnamen. Anjar menyebut KONI, Dispora, Asprov PSSI, hingga Pemkab Tulungagung memberikan dukungan terhadap rencana kegiatan mereka.
Putra Daerah Masih Ingin Bawa Turnamen Pulang
Meski tahun ini menggelar turnamen di Tulungagung, Anjar tidak menutup peluang membawa event tersebut kembali ke Trenggalek.
Sebagai putra daerah, ia tetap berharap kondisi sepak bola Trenggalek membaik sehingga komunitasnya bisa menggelar kompetisi di tanah kelahirannya.
“Saya akan terus memantau perkembangan dan dinamika sepak bola di Trenggalek,” tuturnya.
Anjar berharap pembenahan sistem dan regulasi nantinya dapat menciptakan ruang yang lebih aman bagi penyelenggara, klub, dan perangkat pertandingan.
“Jika iklimnya sudah memungkinkan, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya bisa menggelar event ini di tanah kelahiran,” tambahnya.
Anjar Dorong Evaluasi Ekosistem Sepak Bola Trenggalek
Anjar meminta polemik perizinan dan sanksi sembilan wasit menjadi bahan evaluasi bersama.
Ia mendorong Pemkab Trenggalek, Askab PSSI, klub, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola duduk bersama untuk membenahi sistem kompetisi.
“Secara sistem, seluruh elemen di Trenggalek harus memiliki komitmen kuat untuk mengevaluasi dan melakukan perubahan nyata,” tegasnya.
Menurut Anjar, Trenggalek perlu memperbaiki iklim kompetisi agar potensi sepak bola lokal dapat berkembang. Ia juga melihat perbedaan pembinaan antara Trenggalek dan Tulungagung semakin terasa.
“Kalau kita komparasikan antara Trenggalek dan Tulungagung, pembinaannya sudah terpisah jarak yang sangat jauh,” tegasnya.
Polemik turnamen pelajar dan sanksi terhadap sembilan wasit akhirnya membawa persoalan yang lebih besar ke permukaan. Bagi Shrimp Army, kompetisi tidak cukup hanya mengandalkan klub dan pemain. Penyelenggara juga membutuhkan kepastian izin, regulasi yang jelas, serta koordinasi antarlembaga agar pertandingan dapat berjalan tanpa menempatkan perangkat pertandingan dalam posisi berisiko.
Jika Trenggalek ingin mempertahankan event olahraga yang digagas komunitas lokal, pembenahan ekosistem tersebut menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda.(CIA)
Views: 10
















