TRENGGALEK, bioztv.id — Komunitas sepak bola Shrimp Army memilih Kabupaten Tulungagung sebagai lokasi turnamen senior yang mereka gagas. Keputusan tersebut kembali menyoroti iklim penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Trenggalek yang dinilai belum cukup ramah bagi penggiat event.
Ajang bertajuk Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 itu akan berlangsung di Stadion Rejoagung Tulungagung mulai 26 September 2026.
Panitia membuka turnamen bagi klub senior se-Karesidenan Kediri dengan format kekuatan penuh (full team). Dari kuota maksimal 32 tim, sebanyak 30 klub sudah mendaftarkan diri.
Penyelenggara acara, Anjar Priadi Putra, mengatakan tingginya animo peserta mendorong panitia menjadikan turnamen tersebut sebagai agenda kompetisi rutin.
“Hingga saat ini, sebanyak 30 tim sudah menyelesaikan proses pendaftaran,” ujar Anjar, Jumat (21/8/2026).
Dua Klub Trenggalek Ikut Berlaga di Tulungagung
Dari 30 tim yang mendaftar, klub asal Tulungagung mendominasi dengan 17 perwakilan. Dua klub asal Trenggalek, masing-masing dari Kecamatan Gandusari dan Watulimo, juga ikut bertanding di wilayah tetangga.
“Dua tim di antaranya bertolak dari Trenggalek, yaitu perwakilan dari Gandusari dan Watulimo,” tuturnya.
Panitia masih membuka pendaftaran hingga 12 September 2026. Mereka akan menutup pendaftaran lebih cepat jika kuota 32 tim sudah terpenuhi.
Turnamen ini menawarkan total uang pembinaan Rp50 juta. Panitia menyiapkan Rp25 juta untuk juara pertama, Rp15 juta untuk runner-up, serta masing-masing Rp5 juta untuk dua semifinalis. Panitia juga menyiapkan trofi juara senilai Rp4 juta.
Perizinan Event di Trenggalek Jadi Pertimbangan
Anjar mengatakan keputusan memindahkan turnamen ke Tulungagung tidak semata-mata karena fasilitas Stadion Rejoagung.
Panitia juga mempertimbangkan pengalaman penyelenggaraan turnamen sepak bola di Trenggalek. Menurut Anjar, proses pengurusan izin dan rekomendasi pertandingan di Trenggalek kerap menghadirkan kendala.
Ia bahkan menyinggung turnamen antarsekolah di Trenggalek yang sebelumnya gagal memperoleh rekomendasi resmi. Persoalan tersebut kemudian berujung pada sanksi larangan memimpin pertandingan selama satu tahun bagi sembilan perangkat pertandingan.
“Proses untuk mengantongi surat rekomendasi di Trenggalek itu sangat tidak mudah,” aku Anjar.
Menurutnya, risiko kerugian membuat panitia memilih lokasi yang memberikan kepastian lebih besar bagi penyelenggaraan turnamen.
Tulungagung Beri Dukungan Lintas Sektor
Anjar menegaskan keputusan tersebut bukan berarti ia meninggalkan Trenggalek. Sebagai putra daerah, ia tetap berharap bisa menggelar turnamen besar di daerah asalnya.
Namun, dukungan berbagai pemangku kepentingan di Tulungagung semakin menguatkan keputusan panitia.
“Persoalan birokrasi event di Trenggalek memang menjadi bahan pertimbangan utama kami,” kata Anjar.
Sebaliknya, ia mengapresiasi KONI, Dispora, Asprov PSSI, hingga Pemerintah Kabupaten Tulungagung yang mendukung rencana komunitasnya.
“Di Tulungagung, seluruh elemen menyambut dan mendukung penuh rencana kegiatan kami,” ungkapnya.
Turnamen Hijrah Jadi Alarm bagi Sepak Bola Trenggalek
Keputusan Shrimp Army menggelar turnamen di Tulungagung memunculkan pertanyaan lebih besar bagi ekosistem sepak bola Trenggalek.
Mengapa komunitas asal Trenggalek justru memilih daerah tetangga untuk menjalankan turnamen yang mereka gagas?
Anjar menilai pembenahan sepak bola Trenggalek tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas olahraga. Pemerintah dan pengurus olahraga juga perlu mengevaluasi sistem pembinaan serta mekanisme perizinan kompetisi.
“Kita semua perlu duduk bersama mengevaluasi sistem yang ada di Trenggalek jika benar-benar ingin membawa perubahan,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan perkembangan pembinaan sepak bola Trenggalek yang menurutnya tertinggal dibandingkan Tulungagung.
“Sangat disayangkan sebenarnya, padahal jarak geografis Trenggalek dan Tulungagung ini sangat dekat, tetapi jurang perbedaannya sudah terlalu jauh,” imbuhnya.
Shrimp Army Siapkan Turnamen Tahunan
Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 berpeluang menjadi agenda tahunan. Panitia sudah berkomunikasi dengan KONI dan Askab PSSI Tulungagung untuk menjadikan turnamen tersebut bagian dari agenda peringatan Hari Jadi Tulungagung.
“Rencana jangka panjang kami memang mematenkan event ini menjadi turnamen tahunan,” jelas Anjar.
Perpindahan turnamen yang digagas warga Trenggalek ke Tulungagung menjadi sinyal bahwa minat terhadap kompetisi sepak bola sebenarnya cukup tinggi. Persoalannya, penyelenggara masih membutuhkan iklim regulasi dan birokrasi yang memberi ruang bagi kompetisi untuk tumbuh.
Anjar menilai Trenggalek masih memiliki peluang memperbaiki kondisi tersebut. Pemerintah, pengurus olahraga, klub, dan komunitas perlu duduk bersama untuk membangun sistem kompetisi yang lebih terbuka, pasti, dan ramah bagi penyelenggara.
Dengan begitu, komunitas lokal tidak perlu lagi mencari ruang kompetisi ke daerah lain hanya karena persoalan birokrasi dan kepastian penyelenggaraan.(CIA)
Views: 16
















