Bukan Pemuja Mitos, Pria di Trenggalek Ini Menjamas Manuskrip Kuno Demi Menjaga Sejarah Tetap Hidup

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idDi tengah anggapan miring bahwa jamasan kental dengan ritual mistis, MB Dwijaharmaji justru memandang tradisi itu dari sudut yang berbeda. Baginya, menjamas benda-benda peninggalan masa lalu merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap sejarah, bukan pemujaan berhala.

Rabu malam (8/7/2026), suasana rumahnya di RT 21 RW 11 Desa Pogalan, Kabupaten Trenggalek, terasa lebih hening dari biasanya. Di ruang tamu, ia menata rapi sejumlah keris, tombak, hingga tumpukan manuskrip kuno. Sebelum mulai membersihkan satu per satu benda tersebut, Dwijaharmaji terlebih dahulu memanjatkan doa selama lima hingga sepuluh menit.

Malam itu, suara gamelan tidak mengiringi prosesi jamasan. Ruangan hanya menghadirkan gemericik air bunga dan sapuan lembut kuas kecil yang membersihkan lembar demi lembar manuskrip berusia puluhan hingga ratusan tahun.

Melalui sentuhan tangannya, jamasan bukan sekadar membersihkan debu dari benda pusaka. Ia merawat jejak sejarah agar tetap hidup dan dapat dipelajari generasi berikutnya.

“Saya menjamas beberapa pusaka malam ini, termasuk keris, tombak, dan yang paling luar biasa bagi saya adalah lembaran-lembaran manuskrip kuno ini,” ujar Dwijaharmaji.

Manuskrip Kuno Ikut Menjadi Bagian Jamasan

Masyarakat umumnya mengenal jamasan sebagai tradisi untuk membersihkan keris atau tombak. Namun, Dwijaharmaji memperluas makna tradisi tersebut dengan merawat manuskrip kuno yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Ia tidak menyiram naskah kuno dengan air maupun cairan kimia. Sebaliknya, ia membersihkan setiap halaman menggunakan kuas kecil agar debu terangkat tanpa merusak serat kertas yang sudah rapuh.

Ia menyapu sampul hingga setiap lembar halaman secara perlahan, kemudian mengangin-anginkan manuskrip semalaman pada suhu ruangan. Baginya, setiap lembar naskah kuno menyimpan pengetahuan yang tidak tergantikan.

Merawat Warisan Sejarah, Bukan Menyembah Benda

Pria yang mengemban amanah sebagai Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bersama istrinya itu menegaskan bahwa jamasan sama sekali tidak berkaitan dengan praktik klenik. Tradisi tersebut bertujuan menjaga warisan sejarah agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Para eyang buyut kita dahulu menggunakan pusaka-pusaka ini untuk berjuang melawan penjajah. Cara kita bersyukur kepada Tuhan dan menghargai mereka adalah dengan merawat peninggalan ini,” katanya.

Menurut Dwijaharmaji, tradisi Jawa mengenal objek jamasan yang sangat beragam. Keraton bahkan merawat kereta kencana, manuskrip kuno, hingga pohon-pohon tertentu yang memiliki nilai sejarah dan filosofi penting.

Menunggu Keraton Yogyakarta Lebih Dahulu

Dwijaharmaji memiliki prinsip yang membedakannya dari banyak kolektor keris. Ketika sebagian orang menjamas pusaka pada awal bulan Suro atau Muharam, ia justru menunggu hingga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyelesaikan prosesi jamasan.

Sebagai Abdi Dalem, ia memegang teguh tata aturan dan hierarki keraton.

“Karena posisi saya berada di luar benteng Keraton Ngayogyakarta, maka secara etika saya baru menjamas pusaka pribadi setelah pusaka milik keraton selesai dijamasi. Ini bentuk kesopanan dan takzim saya kepada aturan,” jelasnya.

Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, prosesi jamasan biasanya berlangsung pada Selasa Kliwon di bulan Muharam. Jika bulan tersebut tidak memiliki Selasa Kliwon, keraton akan menggelarnya pada Jumat Kliwon.

Memanfaatkan Air Kembang dan Serbuk Kayu

Prosesi jamasan di rumah Dwijaharmaji berlangsung sederhana, tetapi tetap sarat makna. Ia menuangkan air murni yang dicampur kembang setaman dari sebuah kendi kecil ke bilah keris dan tombak secara perlahan.

Setelah membersihkan karat menggunakan air perasan jeruk nipis, ia mengeringkan bilah pusaka dengan tatal atau serbuk kayu halus bekas gergajian, bukan kain kasar maupun tisu. Cara tradisional itu mampu menyerap air tanpa merusak permukaan logam sekaligus lebih ramah lingkungan.

Mengajarkan Harmoni dengan Alam

Bagi Dwijaharmaji, filosofi jamasan tidak berhenti pada perawatan benda pusaka. Tradisi tersebut juga mengajarkan manusia untuk menjaga hubungan harmonis dengan alam.

Ia tidak membuang air bekas jamasan ke saluran pembuangan. Sebaliknya, ia menggunakan air kembang tersebut untuk menyiram tanaman dan pepohonan di halaman rumah.

“Nilai ekologisnya adalah mengembalikan semuanya ke alam. Kita tidak menggunakan bahan kimia yang bisa merusak tanah. Ada semangat memayu hayuning bawana di sini, yaitu komitmen manusia untuk memperindah dan menjaga kelestarian alam,” tuturnya.

Menjaga Sejarah Tetap Bernapas

Di tengah derasnya arus digitalisasi, manuskrip kuno semakin terpinggirkan. Banyak naskah bersejarah rusak dimakan usia atau hilang karena tidak mendapatkan perawatan yang semestinya.

Dwijaharmaji memilih merawat peninggalan tersebut secara rutin. Ia meyakini masyarakat tidak cukup hanya menyimpan warisan sejarah di dalam lemari, tetapi juga harus merawatnya agar tetap lestari.

Baginya, setiap lekuk keris, ujung tombak, dan goresan tinta pada manuskrip kuno menyimpan perjalanan panjang sebuah bangsa, nilai-nilai kehidupan, serta jejak para leluhur yang tidak boleh hilang ditelan zaman.

Karena itu, ia menjadikan tradisi jamasan setiap bulan Muharam sebagai bentuk nyata menjaga warisan budaya. Melalui langkah sederhana itu, ia berharap sejarah Indonesia tetap hidup dan terus menginspirasi generasi muda.(CIA)

Views: 8